EKSISTENSI KARAKTER PEMIMPIN CALON GUBERNUR JAWA TENGAH MELALUI JARGON

•Agustus 5, 2008 • & Komentar

Upaya menampakkan diri melalui jargon menjadi salah satu alternative pilihan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan puncak yakni dipilih oleh masa. Fenomena perang spanduk (jargon) di jalan oleh calon gubernur Jawa Tengah marak akhir-akhir ini. Apa yang sebenarnya mendasari meraka untuk melakukannya?

Calon gubernur sudah pasti calon pemimpin. Jargon yang dengan mudah ditemui di tempat-tempat strategis sebenarnya merupakan cerminan karakteristik diri ataupun organisasi. Mengapa organisasi? Seorang dapat mencalonkan diri melalui mekaniskme kendaraan politik. Kendaraan politik dalam hal ini adalah sebuah organisasi. Dengan demikian, jargon yang diusung oleh calon-calon pemimpin tersebut adalah cerminan arah dari organisasi pengusung calon tersebut.

Calon-calon tersebut sudah barang tentu memiliki satu karakter yang orang awam tidak miliki yakni karakter seorang pemimpin. Karakter seorang pemimpin dapat dibaca melalui jargon-jargon yang dipublikasikan.

Bambang Sadono, dengan jargon “ Menuju Jawa Tengah Sejahtera” mencoba menampilkan karakter pemimpin yang rendah diri. Melihat Jawa Tengah yang tidak sejahtera, karakter yang rendah diri menawarkan sebuah perubahan pada suatu kondisi yang harus diubah kepada masa. Dengan sedikit arogan pula, Bambang berupaya memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa dialah yang mampu memberikan perubahan yakni menjadi sejahtera.

Karakter kepemimpinan tidak hanya rendah diri, arogan kepada lawan, berani, percaya diri, dan lain-lain namun karakter kepemimpinan dibangun secara utuh antara soft skill dan hard skill. Karakter kepemimpinan mencakup ambisi, keinginan, kejujuran, integritas, kepercayaan diri, kecerdasan otak, kecerdasan emosi yang kesemuanya merupakan penggabungan soft skill dan hard skill. A model of authentic leadership that integrates contextual, cognitive, affective, cognitive, and spiritual elements (Klenke: 2007).

Menurut pendapat penulis, karakter kepemimpinan tidak cukup pada karakter fisik dalam artian karakter yang dapat dengan mudah dibaca oleh orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang pemimpin memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Kecerdasaan spiritual, menurut hemat saya, menentukan kecerdasan emosi orang.

Dengan spiritual, jiwa akan terisi dan dengan otomatis emosi akan terkontrol. Hal ini adalah mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan emosi yang bagus, seorang pemimpin dapat melakukan pengambil keputusan dengan baik dan tepat.

Melihat jargon-jargon yang ditawarkan oleh sebagian besar calon gubernur, kesimpulan penulis adalah karakter kepemimpinan yang ideal belum mampu ditunjukkan. Meraka lebih pada memberikan sesuatu tawaran yang kasat mata.

Namun, menurut Penelitian yang dilakukan oleh Goleman dan kemudian dipublikasikan melalui International Journal of Scholarly Academic Intellectual Diversity Volume 8, Number 1, 2004 oleh Alicia Kritsonis, MBA Graduate Student, California State University, Dominquez Hills, karakter pemimpin menentukan gaya kepemimpinan yang dipakai kelak ketika calon gubernur tersebut menjadi pemimpin. Galmone juga menyatakan bahwa karakter pemimpin yang efektif adalah memiliki tingkatan yang tinggi dalam kecerdasaan emosi. Hal tersebut senada dengan pendapat penulis.

Kecerdasaan emosi tersebut meliputi kesadaran diri, peraturan diri, motivasi, empati, dan kecakapan social. Dengan melalui pengulangan, waktu, keinginan, serta usaha, kecerdasan-kecerdasan ini dapat memberikan dapat yang positif terhadap pencapaian hasil oleh sang pemimpin.

Kesadaran diri membuktikan akan kemampuan sang pemimpin dalam melakukan evaluasi dan intropeksi diri terhadap semua kemampuan dan potensi yang ada di dalam diri. Peraturan diri menyatakan sang pemimpin memiliki semacam komitmen dari awal yang harus dipegang teguh dan diwujudkan selama masa kepemimpinan. Motivasi merupakan dasar dari segala karakter yang ada dalam jiwa seorang pemimpin. Seorang pemimpin boleh jadi memiliki semua karakter pemimpin namun motivasi adalah dasar untuk mewujudkan semua karakter tersebut dijalani. Empati menjadi bagian dari seorang pemimpin untuk selalu melihat sekeliling. Sikap empati kepada lingkungan membawa seorang pemimpin menjadi good decision maker. Kecakapan social adalah bagaimana seorang pemimpin mampu melakukan komunikasi yang baik terhadap lingkungan dan organisasi. Bagaimana sang pemimpin mengomunikasikan kepada lingkungan dengan bahasa yang mudah dan mampu memberikan embati kepadanya.

Melihat piramida di atas, motivasi merupakan hal yang paling mendasar. Berdasarkan jorgan yang terpampang di tempat-tempat strategis, para calon pemimpin tersebut paling tidak memiliki motivasi untuk melakukan. Jargon-jargon tersebut sebagian besar mencerminkan adanya sesuatu yang harus berubah. Motivasi untuk meraih masa yang paling banyak dan menang tentunya.

PEMBANGUNAN UNTUK KEHIDUPAN YANG BERKELANJUTAN

•Agustus 5, 2008 • 1 Komentar

Menjadi sangat menarik ketika kita melihat dunia tumbuh dan berkembang dengan pesat. Teknologi dengan cepat merambah ke kawasan margin. Patut diacungi jempol bahwasanya peradaban manusia mulai berkembang dan dapat dikatakan telah menemukan jalannya. Dengan segala ilmu pengetahuan yang terus berkembang, pembangunan dan teknologi menjadi hal yang mudah bagi manusia. Begitu pula dengan segala fasilitas yang telah tersedia, memberikan jalan mulus bagi berkembangnya suatu kelompok masyarakat.

Pembangunan yang terjadi saat ini baik fisik maupun nonfisik dilakukan tidak secara komprehensif. Dalam artian, tidak semua aspek dalam kehidupun menjadi bahan pertimbangan kegiatan tersebut, sebuat saja aspek lingkungan. Sudahkan tersentuh? Banyak kasus yang dapat menjadi gambaran bagaimana pembangunan tidak mempertimbangan secara keseluruhan. Beberapa upaya pembangunan fisik seperti hotel dan pabrik tidak mengindahkan aspek lingkungan. Terbukti sedikit dari mereka membuat analisa tentang dampak lingkungannya (AMDAL).

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan salah satu programnya yakni Education for Sustainable Development mencoba membukakan mata kepada dunia akan pentingnya nilai keberlanjutan di setiap kegiatan pembangunan yang dilakukan. Hal itu berdasar pada kenyataan bahwa keluaran pembanguna selama ini belum mampu memberikan kehidupan yang sustain.

Selama ini, hanya memberikan peluang bagi pembangunan dari segi ekonomi saja namun telah melupakan lingkungan sebagai sumber dari kehidupan. Tak sedikit di beberapa bagian bumi, kondisi lingkungan menjadi menurun karena kurang adanya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya pengelolaan lingkungan sehingga keberlanjutan hidup dapat dicapai.

Penekanan pembangunan dan pertumbuhan pada segi ekonomi membawa pada pengabaian beberapa segi yang sebenarnya saling terkait yakni lingkungan dan juga ekonomi. Pencapaian pertumbuhan ataupun kehidupan ekonomi yang sesaat berdampak buruk pada keberlanjutan dari pembangunan itu sendiri. Ada tiga aspek utama yang menjadi komponen dasar dalam pembangunan berkelanjutan yang nantinya kalau ketiga aspek ini digarap secara menyeluruh akan membawa umat manusia pada kehidupan yang lestari. Ketiga aspek tersebut adalah aspek sosial, ekonomi, dan aspek lingkungan.
Lingkungan harus digarap dengan hati-hati mengingat ini adalah sumber kehidupan bagi manusia. Bisa dibayangkan bagaimana jika lingkungan tersebut rusak dan tak terawat? Boleh jadi hari ini kita bisa makan dan menikmati hidup, bagaimana dengan esok? Bagaimana dengan generasi di bawah kita? Dari mana mereka dapat mempertahankan hidup? Isu lingkungan memang manjadi isu yang krusial untuk saat ini dan masa yang akan datang.

Aspek kedua adalah asperk sosial. Ini berkaitan dengan nilai kesepahaman diantara kelompok. Kesepakatan dan pemahaman bagaimana pembangunan tersebut dijalankan tanpa mendatangkan kerugian hidup bersama. Bagaimana kelompok tersebut membangun sebuah komitmen yang utuh dalam memperjuangkan nilai-nilai keberlanjutan dari kehidupan mereka. Seringkali aspek ini tertinggal. Kepentingan sosial terabaikan dengan munculnya kepentingan tunggal yang acap memerikan dampak negatif pada kehidupan sosial.

Ekonomi adalah aspek terakhir dalam pembangunan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang sehat mencerminkan kemakmuran yang didapat. Semakin makmur semakin tinggi pula kehidupan ekonomi. Namun, sebagaimana tersebut bahwasanya pertumbuhan ekonomi sesaat bukanlah jawaban yang baik. Namun bagaimana pertumbuhan ekonomi tersebut mampu memberikan kehidupan untuk masa depan.

Ekonomi, lingkungan, dan sosial jika diilustrasikan dalam sebuah gambar akan memberntuk pola keterikatan dalam sebuah segitiga. Lingkungan terkait dengan kedua aspek yang lain. Begitu pula dengan setiap aspek, mempunyai keterkaitan dengan aspek-aspek yang lain. Jika salah satu aspek dalam kondisi yang tidak semestinya, interasksi segitiga yang terjalin tidak berjalan dan dapat dipastikan kehidupan yang berlanjut jauh dari jangkauan. Suku Badui, Banten mempunyai nilai-nilai pembangunan yang berkelanjutan. Terbukti hingga saat ini, mereka dapat hidup tanpa adanya intervensi dari luar. Dengan mandiri mereka mampu mengolah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa menimbulkan konflik.

Dengan memperhatikan secara benar ketiga aspek tersebut, kehidupan dengan pembangunan yang subur berjalan dengan langgeng. Manusia dapat secara hidup baik secara material maupun non material dan yang lebih penting manusia dapat menikmati hidup yang sustain tidak mandeg sampai di sini. Ada gambaran kehidupan di generasi bawah.

Public Interest

•Agustus 5, 2008 • 1 Komentar

Konsep public interest dapat diartikan sebagai pertimbangan yang dapat mempengaruhi permintaan barang dan memfungsikan masyarakat serta pemerrintah yang baik untuk kemakmuran bersama. Sesuai dengan kata pembentuknya, public berarti umum dan interest berarti kepentingan. Dengan demikian, public interest dapat diartikan sebagai sebuah kepentingan yang menyangkut secara bersama.

Ada banyak pandangan terkait dengan public interest tersebut. Dalam public interest sering kali terjadi dilema antara pemberian dan penyembunyian informasi terkait dengan kepentingan banyak pihak. Public interest dilakukan dengan cermat dan memperhatikan kebutuan khalayak. Di dalam public interest terdapat dua hal yang mendasari pembentukannya, yakni pemberian infomasi kepada masyarakat dan menutup-nutupi informasi kepada masyarakat. Sebuah masalah dapat diputuskan menjadi sebuah public interest dengan melalui dua tahap yakni :

• Public interest assessment
Public interest assessment dimaksudkan untuk menggali lebih dalam akan kebutuhan-kebutuhan dari sebuah permasalahan yang akan diangkat menjadi publik interest. Bagaimana kepentingan tersebut nantinya dapat benar-benar menjadi public interest. Assessment di tingkat masyarakat serta di tingkatan pemerintah menguatkan interest tersebut memiliki sokongan untuk menjadi public interest ataupun sebaliknya. Sebagai contoh adala ketika masyarakat menginginkan informasi terkait dengan jumlah polisi intel dalam sebuah kota kepada pemerintah. Dengan permintaan tersebut, pemerintah bisa jadi memberikan atauapun menolak untuk memberikan infomasi yang masyarakat inginkan. Alasan pemerintah tidak memberikan infomasi tersebut karena informasi tersebut dapat dijadikan oleh orang-orang kriminal untuk memetakan potensi kejahatan bagi mereka, namun ketika pemerintah memberikan informasi akan membuka peluang bagi orang-orang kriminal tersebut untuk menghimpun kekuatan.

Dengan demikian, assesment dari masyarakat terkait dengan public interest dilakukan dengan sangat hati-hati karena jika terjadi kesalahan dalam pemberian informasi yang mengatasnamakan public bisa jadi akan menjadi keuntungan bagi segelintir individu dan akan menjadi private interest.
Beberapa hal yang dijadikan pertimbangan ketika melakukan public interest assessment, salah duanya adalah :

1. Kondisi dan jenis fasilitas yang disediakan, khususnya fasilitas yang membedakan dengan wilayah lain. Contohnya adalah kebutuhan polisi rahasia di masing-masing kota adalah berbeda.
2. Dampak negatif dan positif dari masyarakat lokal. Bagaimana jika polisi rahasia ditambah. Akankah merugikan atau menguntungkan?

• Public interest test
Seluruh data terkait dengan permintaan dari masyarakat, kemudian diuji apakah memang benar-benar telah mewakili kepentingan secara umum. Ketika keuntungan untuk menjadikan public interest lebih besar dari pada kerugian, public interest sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat dapat disetujui. Namun, pelaksanaan dari public interest dilakukan pengawasan sehingga tidak memunculkan private interest di kemudian hari. Hal tersebut terkait dengan kerentanan di dalam masyarakat itu sendiri. Konflik sosial dan kelompok dapat terjadi ketika public interest sudah berali menjadi private interest.

Dalam pelaksanaan public interest, hak individu dijaga secara seimbang untuk menyeimbangkan public interest tetap “on the right track”. “It would be true to say that what is in the public interest often depends on the particular circumstances, and each circumstance raises a range of considerations that often conflict. Sometimes conflicting public interest considerations need to be balanced”. (Public Sector Agencies Fact Sheet No 16).

Konflik kepentingan dijaga supaya tidak naik dan mengacaukan public interest itu sendiri. Pemerintah memiliki andil dalam mempertahankan status dan pelaksanaan public interest tersebut. Pemerintah menjamin keabsahan public interest tanpa adanya kepentingan individu yang bermain di dalamnya seingga public interest dapat memuaskan masyakat sebagai warga negara.

They must, as a matter of course, avoid situations where their private interests conflict, might potentially conflict, or might reasonably be seen to conflict with the impartial fulfilment of their official duties. Where conflicts between public and private interests cannot be avoided they must be appropriately disclosed and managed. (Public Sector Agencies Fact Sheet No 16).

Public interest terkait dengan mencapai tujuan masyarakat yang lebih baik karena memuat kepentingan dan keinginan secara bersama, khalayak umum. Berapa orang yang akan menerima keuntungan dengan adanya public interest menjadi sangat crusial dalam proses penentuan kebijakan public interest.
Satu contoh adalah menyatakan penanaman pohon jarak menjadi public interest di Indonesia. Langkah pertama perlu menghitung berapa orang yang mendapatkan keuntungan dari kebijakan penanaman pohon jarak. Proses penghitungan dan kalkulasi tidak dilakukan secara sekilas atau hanya dilihat dari permukaan saja bahwasanya pohon jarak dapat menumbukan perekonomian masyarakat. Nilai ekonomi jarak menjadi melambung karena kebutuhan jarak baik di tingkat nasional maupun internasional tinggi. Dengan menanam jarak, masyarakat akan mendapatkan keuntungan. Di satu sisi, penanaman jarak ternyata membutuhkan konversi lahan pertanian pangan menjadi lahan kering untuk jarak. Ketika seluruh masyarakat menanam jarak untuk kebutuhan bahan bakar alternatif, ada kerugian yang lain yang akan ditimbulkan yakni terjadinya krisis pangan karena alih fungsi lahan pertanian. Tidak ada lagi lahan yang dipergunakan untuk menanam tanaman pangan seperti padi. Isu tersebut menjadi sangat penting dan urgen untuk menjadikannya sebuah public interest. Public interest juga menyangkut pada “moral hazard” dari setiap individu dalam sebuah kelompok.

WORLD IN 20 YEARS

•Agustus 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

World is changing rapidly. Earth as a place where human being is living, now is being older and older. People are growing as fast as jet plane. In the other side, earth does not grow. Earth has no place anymore for next generation. The growth of people in this world has its own consequents. The daily needs of those people are more and more. The activities of human are more as well. Many activities are run to satisfied people’s interest. They take many ways to gain it. They will do whatever that it makes them. They exploit the nature greedily. They just think about accidental happiness and satisfaction.

Since 1980, the human activities have been increasing on the earth. Human activities which is exploiting the nature, such as coal mining, land opening, technology development, etc gives bad and good point to human’s life. Human are trying and trying in order to get more effective and efficient life. Instant lifestyle encourage human to develop more that it should be. Practical life is chosen by human to satisfy them. Opening the forest for houses is now being trend for fulfilling the house needs.

Climate change is world’s threat within the next generation. It can be convinced within 20 years, world will be changed much. Problems are getting worse and complicated. Human’s activities will lead to the climate change and the world change. Practical life styles exacerbate the nature condition. Opening forest is the example of human’s activities, which change the planet of earth.
Vulnerable people will get this experience much. Poor people will suffer from the lack of water. This inequity condition will be more and more serious. Developed countries, which have more power and money, will exploit more to get the benefit however poor and developing countries, which do not exploit will get the impacts of it.

People will have no clean and fresh water access anymore. Water is being lack. No are will absorb and keep the water in it. No land can be used for water reservoir. Deforestation for houses gives big opportunity to water to escape from it should be. In some part of the world, now days, this problem is faced. People are finding difficulty to find the water and it causes the decreasing of health quality of the family. Water is very important for surviving. People cannot live without water. Poor people who has no access in getting health facilities will suffer much as they cannot provide the best for their family’s health. Serious diseases such as malaria and fever will be serious threat as well. Those kinds of diseases are caused by lack of clean water. Since people have no clean water access for water, they will find any kinds water to overcome the lack of water. It can be polluted and improper water.

People who will suffer from the lack of water are women. Being person who responsible for providing and services the daily needs of family, women is going to walk in along distance to find the water. The will try to find the water whenever it is and then, they will carry it to their house.

Furthermore, lack of water will also trigger conflict among people. People will struggle to obtain water. Some conflicts are happening now. They want to access clean water whatever the condition is. The demand is not appropriate with the supply of water from the nature. Farmers and anglers have big opportunity in making conflict. Those people try to get water for their own areas. They want water to water their area in order to get good harvest. Some will get more and some will get little. Some who get little will fail in harvest time. Harvest time is impossible for those vulnerable people. It also will lead to the lack of nutrition for the family as well. Those cannot provide and services sufficient nutrition for their family. Health condition will decrease since crops cannot be gained because of lack of water.

Within next years, there should be ideas to minimize the worse condition of lack of water. The question is why people will be greedy to exploit the nature. What should do to make the wise in treat the nature and the earth? Education is being the best solution for it. Environment education gives people wider point of view in using and exploiting the nature. Environment education has to be implemented in every sector of live, informal and formal. Life should be adorned by environment education. It will make people in every generation, accustomed to think and manner eco friendly. The education should be run within a family since family is very important for banding thought and manner of children. Those concept of being wise to environment will be brought all long live.

Dampak Perubahan Iklim di Jawa Tengah

•April 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kenaikan suhu bumi secara global sangat terasa dalam beberapa tahun terakhir ini. Panas yang menyebar secara merata di seluruh permukaan bumi, memicu perubahan pola angin dan juga pola arus di laut. Semakin panas suhu bumi, pola angin menjadi lebih kencang. Hal tersebut mengakibatkan tingkat penguapan di laut lepas menjadi semakin besar. Uap menuju ke angkasa dan terjadi kenaikan kosentrasi uap air. Akibatnya terjadilah hujan dengan intensitas yang tinggi.

Dengan berubahnya pola angin, berubah pula iklim di suatu wilayah. Iklim perpengaruh terhadap cuaca yang terjadi. Seperti halnya yang terjadi di Jawa Tengah, perubahan iklim secara global mengubah tatanan cuaca yang telah berlangsung lama. Sebagaimana diketahui, musim penghujan terjadi pada bulan Oktober hingga April, namun yang terjadi beberapa tahun terakhir adalah pergesaran musim. Musim penghujan dirasakan lebih pendek dan datang terlambat. Sebaliknya, musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung sangat lama.

Berdasarkan sumber dari tempointeraktif.com, 104.744 hektare sawah di Demak, Kudus, Pati, Grobogan, dan Jepara mengalami kekeringan. Kekeringan ini diperburuk oleh penutupan Waduk Kedungombo untuk pertanian karena ketinggian air tinggal 78 meter, dari batas toleransi 80,53 meter. Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Jawa Tengah mengancam ketahan pangan tidak hanya di Jawa Tengah sendiri namun juga Indonesia karena Jawa Tengah adalah wilayah pemasok terbesar padi nasional.
Dampak kedua adalah bencana longsor di sebagian besar wilayah Jawa Tengah. Penguapan yang besar mengakibatkan intensitas hujan semakin besar. Hujan berlangsung singkat namun kepadatan hujan tinggi. Daerah-daerah dataran tinggi seperti Karanganyar, Purworejo, Banyumas Banjanegara, dll bersiko terkena ancaman tanah longsor.

Sepanjang tahun 2007, bencana tanah longsor karena hujan yang terus menerus mengguyur terdapat 11 kejadian tanah longsor. Yang terakhir adalah yang terjadi di penghujung tahun 2007, tepatnya pada tanggal 26 Desember di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Enam puluh satu orang tewas karena tertimbun longsor. Longsor tersebut disebabkan karena hujan yang mengguyur beberapa hari tanpa henti.

Puluhan nyawa melayang dan puluhan rumah tertimbun tanah karena tanah longsor. Tanah longsor merupakan dampak karena pola musim yang telah berubah. Intensitas hujan yang terjadi semakin banyak setiap harinya. Hal tersebut diperparah dengan kondisi daerah tangkapan air yang mulai berkurang di wilayah-wilayah rawan longsor.

Naikknya intensitas air hujan juga memicu terjadinya bencana banjir di daerah rawan banjir. Banjir mengancam dan menghancurkan harapan ribuan petani di wilayah Demak, Kudus, Solo, Kendal, Tegal, Pemalang, Rembang, Jepara, dan sepanjang wilayah Jawa Utara. Setidaknya ada ribuan petani 16 kota/kabupaten terancam tidak panen karena ribaun hektar area sawah tergenang oleh banjir. Total tanaman padi yang kebanjiran di Jateng sekitar 35.708 ha dengan 11.916 ha puso (BAPPENAS, 2007). Di Jawa Tengah sebanyak 25,3 ha tanaman pisang, cabe, bawang merah dan kacang panjang yang tersebar di Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Demak dan Sragen terkena banjir dengan tingkat puso mencapai 11 ha.

Berdasarkan sumber dari Badan Kesatuan dan Perlindungan Masyarakat Propinsi Jawa Tengah, terdapat 123 kejadian banjir di Jawa Tengah sepanjang tahun 2007. Dengan curah hujan mencapai puncak hingga 500 milimeter per bulan, air hujan yang turun berubah menjadi ancaman bagi seluruh warga Jawa Tengah. Banjir telah mengancam pemukiman, pertanian, dan usaha lainnya serta banjir telah menyebabkan kerugian hingga Rp 23,52 miliar. Bahkan intensitas hujan yang tinggi juga terjadi pada awal tahun 2008. Volume air hujan yang besar mengakibatkan daya tampung air di dalam badan sungai tidak muat. Kondisi tersebut juga diperparah dengan adanya pendangkalan di badan sungai. Akibatnya, air meluap dan banjir tidak dapat dihindari. Hal tersebut terjadi di sungai Bengawan Solo dan Juwana. Air yang meluap menggenangi puluhan ribu hektar lahan pertanian dan permukiman di sekitarnya.
Banjir di wilayah Kudus dan sekitarnya melumpuhkan seluruh aktivitas kehidupan. Sektor transportasi dan juga perikanan mengalami kerugian karena banjir. Infrastruktur mangalami kerusakan. Beberapa ruas jalan di sepanjang pantai utara yang tergenang air banjir mengalami kerusakan. Transportasi baik perdagangan maupun jasa di daerah tersebut lumpuh. Ratusan juta hilang karena kagiatan perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banjir juga mengancam ribuan nelayan tambak di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Ikan tambak siap panen hilang disapu banjir. Budidaya ikan tampak merugi. Ratusan nelayan tambak merugi karena gagal panen.

Naiknya permukaan air laut karena perubahan iklim mendorong terjadinya abrasi di wilayah pesisir pantai wilayah Jawa Tengah Utara. Suhu tinggi secara global akibat dari perubahan iklim membuat es di wilayah kutub Utara mencair volume air laut bertambah karenanya sehingga permukaan air laut akan mengalami kenaikan. Lebih lanjut, angin yang telah berubah polanya mendorong air ke wilayah pantai secara besar-besaran. Kondisi wilayah pesisir Jawa Tengah yang tanpa adanya penahan gelombang baik buatan maupun alami (mangrove) sangat dengan mudah terkikis karena hasutan air laut yang terjadi secara besar dan terus menerus. Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, 10.000 hektar tambak hilang karena abrasi sepanjang tahun 2000-2003.

Meningkatnya suhu mengakibatkan tekanan udara semakin besar. Badai di laut lepas akan semakin sering terjadi. Beberapa kejadian badai angin juga terjadi di wilayah Jawa Tengah. Angin putting beliung menghantam delapan rumah dan sebuah bangunan sekolah dasar di Banyumas, Jawa Tengah, 6 Februari 2007. Beberapa waktu yang lalu, angin putting beliung juga mengakibatkan belasan rumah di wilayah Kemijen, Semarang porak poranda dan satu jiwa melayang karena tertimpa pohon tumbang. Fenomena alam ini jarang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun yang lalu. Namun kenyataannya, kejadian tersebut mengalami peningkatan dalam frekuensi.

Dampak perubahan iklim sangat nyata dialami oleh warga Jawa Tengah. Jawa Tengah sangat rentan dan rawan terhadap dampak perubahan iklim. Dari kejadian bencana yang terjadi di wilayah Jawa Tengah, seluruh bencana adalah dampak dari perubahan iklim yakni kekeringan, banjir, angin putting beliung, dan tanah longsor. Kesemuanya adalah dampak yang dapat dilihat secara kasat mata. Namun ada yang lebih besar dan jauh lebih penting dibanding dampak alam tersebut yakni dampak social dan ekonomi. Berapa kerugian yang diakibatkan adanya perubahan iklim. Petani yang gagal panen karean banjir dan kekeringan, nalayan tambak yang kehilangan ikannya, nelayan laut yang berhenti melaut karena badai, pedagang yang terhambat mobilitasnya karena banjir, dan masih banyak lagi dampak-dampak social dan ekonmi lainnya yang lebih penting dan krusial untuk segara dicari pemecahannya.

Ketahanan pangan adalah salah satu prioritas sebagai dampak dari perubahan iklim. Perubahan iklim sudah terjadi dan tidak dapat dihindari. Dampak-dampak tersebut mulai dapat dirasakan saat ini. Dampak tidak perlu disesali namun memerlukan upaya penyesuaian terhadap dampak-dampak tersebut. Bagaimana kita, masyarakat Jawa Tengah yang sangat rentan dengan dampak-dampak tersebut, berupaya mengurangi resiko yang jauh lebih besar. Upaya mitigasi pun harus dilakukan sedini mungkin untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Mitigasi dan adaptasi harus dilakukan secara sinergis antara masyarakat dengan pemerintah daerah.

Tiga Kecerdasan Menuju Karakter Anak Yang Kuat (Studi Kasus Pembelajaran Di SD Islam Istiqomah, Ungaran, Semarang)

•April 20, 2008 • & Komentar

1. Intelligence Quotient
Dalam mencapai kesempurnaan di ketiga aspek tersebut, sekolah menerapkan beberapa strategi. Untuk mencapai kesempurnaan di didang intelligence, sekolah memberikan kegiatan pembelajaran yang aktif, memungkinkan anak untuk mengembangkan ide dan pikiran mereka. Namun 90 % teknik yang dipergunakan untuk masih dengan teknik ceramah. Tututan orang tua yang menginginkan anak-anak mereka memiliki nilai tinggi, pembelajaran di Istiqomah pun tidak berbeda dengan sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta yang lain. Sekolah memberikan materi pelajaran dengan intensif, apalagi pembelajaran di kelas VI. Materi yang diberikan adalah materi-materi yang bersifat pengulangan (drill). Dalam hal ini, intelligence quotient merupakan salah satu manefestasi dari olah tubuh anak.
Olah tubuh fisik diberikan melalui beberapa ekstra kurikuler di bidang olah raga. Anak-anak dengan kelebihan di bidang olah raga dibimbing dan dituntun sehingga mampu mengenali kemampuan yang sebenarnya.

2. Spiritual Quotient
Kecerdasaan yang menjadi sangat penting juga adalah spiritual. Spirtual menjadi urgent dalam kaitannya membentuk kepribadiaan anak. Kecerdasan spiritual menjadi dasar dari kecerdasaan emosi dan intelegensi. Kecerdasaan ini memberikan ruang kepada anak untuk mengamalkan agama Islam dengan penuh kesadaran. Untuk mecapainya, sekolah mencantumkan mata pelajaran fiqih dalam kurikulum sekolah. Mata pelajaran ini diberikan pada saat anak berada di kelas 1. Fiqih lebih banyak memberikan anak sesuatu yang sifatnya pembiasaan, seperti bagaimana memperlakukan adik ataupun kakak kelas, bagaimana etika keluar dari ruang kelas, dsb. Beberapa aturan tertulis dibuat dan diperlakukan basi semua penghuni sekolah tanpa kecuali. Diharapkan, aturan-aturan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan budaya yang baik bagi anak. Fiqih yang disampaikan kepada anak, bukan lah pelajaran yang teksbook namun lebih bersifat praktikal. Pelajaran yang harus diamalkan dan bukan dihafalkan. Anak diajari bagaimana shalat jenazah sejak kecil dan diharapkan akan mampu melakukan sendiri ketika lulus dari sekolah.

Kecerdasaan spiritual yang diberikan untuk pengembangan roh anak. Roh tidak berkembang dan bersifat statis namun perlu dijaga dan dipelihara agar tetap pada jalannya.

3. Emosional Quotient
Kecerdasan yang ketiga adalah kecerdasan yang disebut dengan budi pekerti. Kecerdasan ini membentuk anak dengan pribadi yang luhur, mampu menghargai sesama, dapat berkerja di masyarakat, dll. Budi pekerti disampaikan dengan kondisi pembelajaran yang santai dan menyenangkan. Pembelajaran ini lebih banyak memberikan ruang antara anak dan guru untuk melakukan sharing (tukar informasi). Dengan memberikan cerita-cerita contoh ketauladanan nabi, anak-anak diajak berfikir serta bertingkah laku sebagaimana telah nabi lakukan. Begitu pula dengan ketauladanan pendidik. Pendidik memberikan contoh-contoh positif sehingga mampu menarik anak untuk melakukan hal yang serupa dengan apa yang pendidik mereka lakukan. Tidak ada evaluasi dalam mata pelajaran ini. Hal tersebut dilakukan untuk menjadikan budi pekerti bukanlah sesuatu yang memberatkan namun merupakan sesuatu yang harus dijalankan. Untuk mengevaluasi apakah anak tersebut telah memiliki budi pekerti (aqidah akhlak) telah mendarah di dalam anak didik, pihak sekolah memberikan sebuah tes ringan tentang kebiasaan anak dimana pun berada. Dengan demikian, pembelajaran ini lebih bersifat pada penanaman konsep budi pekerti. Anak tidak saja tahu bagaimana budi pekerti yang baik namun juga bagaimana mengamalkannya.

Jiwa anak menjadi fokus untuk pengembangan kecerdasan emosi. Anak secara kejiwaan diberikan stimulus-stimulus yang positif sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk persaingan global.

Analisa Kritik Terhadap Praktek Pendidikan Indonesia

•April 20, 2008 • 1 Komentar

Secara awan, guru disebut sebagai seseorang yang menguasai sebuah bidang ilmu pengetahuan dan berkewajiban mentransfer ilmu pengetahuan tersebut. Seorang guru adalah sesosok dengan kepribadian yang lembut, angun, santun, sopan, dan jujur (dan mungkin masih banyak lagi sifat baik lainnya). Guru, dalam pandangan Freire, tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi mereka harus memerankan dirinya sebagai pekerja budaya (cultural workers). Guru harus mempunyai kesadaran penuh bahwasanya pendidikan itu mempunyai dua kekuatan sekaligus, yakni sebagai aksi kultural untuk pembebasan atau sebagai aksi kultural untuk dominasi dan hegemoni dan sebagai medium untuk memproduksi sistem sosial yang baru atau sebagai medium untuk mereproduksi status quo.

Sumber daya pendidik, guru, menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan. Di Indonesia, guru seakan-akan menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Melihat kebutuhan semacam itu, guru harus menjadi sesosok yang mumpuni dalam menjalankan segala fungsinya. Guru tidak saja berijazah S1 ataupun D2 atau S2. Peserta didik tidak membutuhkan selembar kertas yang menyatakan guru mereka telah lulusan dari pendidikan sarjana ataupun lainnya. Guru harus melaksanakan pendidikan yang sempurna melalui pengajaran-pengajaran yang telah direncanakan. Bagaimana pendidikan yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang guru melalui sebuah pemembelajaran?

Menurut pengertian Yunani pendidikan adalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan untuk merealisasikan potensi anak. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Berdasar pada istilah tersebut, guru dalam mengajar di dalam maupun di lura kelas harus memegang teguh konsep dasar dari pendidikan tesebut karena mengajar adalah manifes nyata dari pendidikan. Guru secara profesional melaksanakan kegiatan pengajaran. Guru harus menciptakan sebuah suasana pembelajaran yang mampu membawa peserta didik mereka menjadi pribadi yang optimal dan bukan memberikan pembelajaran yang membelenggu yang hanya transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik.

Kenyataan bahwa masih banyak guru di Indonesia yang tidak memiliki dasar yang kuat akan konsep dasar dari pendidikan sehingga pola mengajar dari guru-guru tersebut terkesan hanya asal-asalan tidak dapat dipungkiri lagi. Guru hanya mengejar setoran nilai ke kepala sekolah dan dinas. Hal tersebut disebabkan karena paradigma yang salah di masyarakat Indonesia yakni keberhasilan peserta didik hanya dilihat hanya dari potensi akademik. Kondisi tersebut membawa keadaan dimana guru hanya menerapkan pembelajaran searah, pembelajaran yang memberlakukan guru sebagai subjek dan peserta didik sebagai objek. Interaksi dalam proses pembelajaran adalah interaksi atasan dan bawahan.
Tidak sedikit guru di Indonesia hanya peduli untuk memasukkan pengetahuan ke peserta didik dengan alasan mengejar nilai semata. Dengan pembelajaran yang monoton yakni ceramah dilanjutkan mencatat kemudian drill soal dan akhirnya latihan-latihan soal mendorong peserta didik menjadi sesosok yang pandai menghapal sesaat.

Banyak permasalahan yang menjadikan sesosok guru menjadi mesin nilai bagi sekolah, dinas, dan negara. Guru di Idonesia tidak menjadikan pekerjaan guru sebagai sebuah profesi yang dengan penuh iklas dijalani segala resiko dan kendalanya. Mereka memilih profesi guru sebagai sebuah profesi yang aman dan nyaman. Kebanyakan guru di Indonesia lebih “playing save”. Dengan menjadi guru, mereka akan dapat tunjangan hari tua (pensiun). Dengan menjadi guru, mereka dapat melakukan pekerjaan lain karena waktu mengajar sedikit. Alasan-alasan tersebut menjadi dasar mengapa profesionalisme guru kadangkala dan bahkan jarang ada dalam diri seorang guru. Setelah keluar dari lingkup sekolah, guru tidak lagi berfikir bagimana perkembangan peserta didik mereka? Pendidikan hanya berhenti di dalam sekolah dan bahkan kelas.

Berangkat dari paradigma yang salah mengenai nilai, guru hanya menyampaikan, tidak ada proses dialog dalam pembelajaran. Sering kali, terjadi pembunuhan karakter terlebih pada pengajaran di tingkat dasar. Kurangnya pemahaman akan hakikat anak menjadikan sebagian guru di Indonesia membelenggu peserta didik untuk dapat mengembangkan segala potensi yang ada. Guru tidak memiliki kesadaran bahwa semua anak yang terlahir di dunia memiliki karakteristik yang berbeda sekalipun kembar siam. Hasilnya adalah pembelajaran yang menyeragamkan tanpa kecuali. Peserta didik lebih diarahkan untuk memenuhi sejumlah target kurikulum.

Sebagiamana Freire menyatakan di dalam buku L’educazione come practica della libeazione (1969), dia menawarkan model pendidikan yang lebih dialogal, yaitu guru dan murid saling mendidik. Keduanya tidak terpaku pada buku teks, yang sudah disusun begitu tematis mengikuti kurikulum.Sebaliknya, mereka lebih diarahkan untuk mengembangkan daya nalar dan rasa serta kemampuan kreatif karsa dalam situasi apapun. Sudah saatnya, guru-guru di Indonesia memegang prinsip-prinsip tersebut. Guru juga tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Pendidikan kebudayaan mengajarkan bagaiman menghubungkan pengetahuan dengan lingkungan sekitar.

Guru Indoensia sebagian besar tidak memiliki visi yang jelas akan dibawa kemana peserta didik mereka. Visi guru telah dibuyarkan dengan nilai ekonomis dan prestise untuk mencapai hegomoni sesaat karena telah membawa peserta didiknya meraih nilai tertinggi. Bagaimana mungkin membentuk karakter peserta didik jika karakter sang guru pun tidak kuat? Guru tidak memiliki visi yang jelas kemana peserta didik meraka akan dibawa.

Satu prinsip penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan dalam proses ini dengan memberikan kesempatan siswa untuk menentukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa menjadi sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa, anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri harus memanjat anak tangga tersebut.
Pada dasarnya pendidikan yang membebaskan adalah situasi dimana guru dan siswa sama-sama memiliki perbedaan. Kenyataan yang ada di Indonesia, guru tidak memandang adanya perbedaan diantara paeserta didik.

Seorang guru harus memiliki konsep yang kuat akan tujuan pendidikan sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru tersebut selalu melihat apakah mereka on the right track. Setiap saat, mereka harus senantiasa melakukan self evaluation terhadap setiap langkah dalam pembelajaran yang mereka jalankan. Karakter guru yang kuat harus terbangun terlebih dahulu sebelum seseorang memasuki dunia guru. Dengan demikian, dalam menjalankan tugas, beliau akan selalu melihat landasan ontologi memasuki dunia pendidikan. Tidak ada lagi sifat menyalahkan peserta didik ketika terjadi kegagalan output pendidikan namun evaluasi diri lebih menjadi dasar untuk menuju perbaikan.

Pertanyaan yang (seharusnya) selalu hadir dalam seorang diri guru adalah akan dibawa kemana peserta didik ini? Bagaimana membawanya? Kedua pertanyaan itu menjadi dasar seorang guru untuk melangkah dalam proses pembelajaran.

Bagaimana membawanya? Pertanyaan tersebut terkait dengan metode yang akan dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana seorang guru menerapkan pembelajaran yang akan membentuk peserta didik pada pribadi yang optimal? Guru harus memiliki teknik-teknik penyampaian pengetahuan yang tidak membelenggu. Tidak hanya itu, guru harus juga memiliki metode-metode dalam memperlakukan peserta didik secara berbeda mengingat peserta didik adalah pribadi yang berbeda sehingga setiap pribadi dipertajam pisau analisisnya, diasah nuraninya, dan dikuatkan kehendaknya, agar dalam konteks apapun mereka sanggup mengambil keputusan yang tepat. Namun, seseorang yang menguasai ilmu pengetahuan dengan baik dapat menjadi guru yang baik, oleh karena biar bagaimanapun mengajar adalah seni. Tetapi sebaliknya biar bagaimanapun mahirnya orang menguasai seni mengajar (art of teaching), selama ia tidak punya sesuatu yang akan diajarkannya tentu ia tidak akan pantas dianggap menjadi guru.

World in 20 Years

•April 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

World is changing rapidly. Earth as a place where human being is living, now is being older and older. People are growing as fast as jet plane. In the other side, earth does not grow. Earth has no place anymore for next generation. The growth of people in this world has its own consequents. The daily needs of those people are more and more. The activities of human are more as well. Many activities are run to satisfied people’s interest. They take many ways to gain it. They will do whatever that it makes them. They exploit the nature greedily. They just think about accidental happiness and satisfaction.

Since 1980, the human activities have been increasing on the earth. Human activities which is exploiting the nature, such as coal mining, land opening, technology development, etc gives bad and good point to human’s life. Human are trying and trying in order to get more effective and efficient life. Instant lifestyle encourage human to develop more that it should be. Practical life is chosen by human to satisfy them. Opening the forest for houses is now being trend for fulfilling the house needs.
Climate change is world’s threat within the next generation. It can be convinced within 20 years, world will be changed much. Problems are getting worse and complicated. Human’s activities will lead to the climate change and the world change. Practical life styles exacerbate the nature condition. Opening forest is the example of human’s activities, which change the planet of earth.
Vulnerable people will get this experience much. Poor people will suffer from the lack of water. This inequity condition will be more and more serious. Developed countries, which have more power and money, will exploit more to get the benefit however poor and developing countries, which do not exploit will get the impacts of it.

People will have no clean and fresh water access anymore. Water is being lack. No are will absorb and keep the water in it. No land can be used for water reservoir. Deforestation for houses gives big opportunity to water to escape from it should be. In some part of the world, now days, this problem is faced. People are finding difficulty to find the water and it causes the decreasing of health quality of the family. Water is very important for surviving. People cannot live without water. Poor people who has no access in getting health facilities will suffer much as they cannot provide the best for their family’s health. Serious diseases such as malaria and fever will be serious threat as well. Those kinds of diseases are caused by lack of clean water. Since people have no clean water access for water, they will find any kinds water to overcome the lack of water. It can be polluted and improper water.
People who will suffer from the lack of water are women. Being person who responsible for providing and services the daily needs of family, women is going to walk in along distance to find the water. The will try to find the water whenever it is and then, they will carry it to their house.

Furthermore, lack of water will also trigger conflict among people. People will struggle to obtain water. Some conflicts are happening now. They want to access clean water whatever the condition is. The demand is not appropriate with the supply of water from the nature. Farmers and anglers have big opportunity in making conflict. Those people try to get water for their own areas. They want water to water their area in order to get good harvest. Some will get more and some will get little. Some who get little will fail in harvest time. Harvest time is impossible for those vulnerable people. It also will lead to the lack of nutrition for the family as well. Those cannot provide and services sufficient nutrition for their family. Health condition will decrease since crops cannot be gained because of lack of water.
Within next years, there should be ideas to minimize the worse condition of lack of water. The question is why people will be greedy to exploit the nature. What should do to make the wise in treat the nature and the earth? Education is being the best solution for it. Environment education gives people wider point of view in using and exploiting the nature. Environment education has to be implemented in every sector of live, informal and formal. Life should be adorned by environment education. It will make people in every generation, accustomed to think and manner eco friendly. The education should be run within a family since family is very important for banding thought and manner of children. Those concept of being wise to environment will be brought all long live.

Quo Vadis Pendidikan Indonesia

•Januari 2, 2008 • & Komentar

Berbicara soal pendidikan di negara ini, memang sering kali menjumpai jalan buntu. Kenapa pendidikan negara ini seakan-akan jalan di tempat, tidak pernah maju. Ada saja yang disalahkan, apakah itu kurikulumnya, metodenya, hingga sumber dayanya. Sikap saling tuduh dan menyalahkan tersebut sudah saatnya untuk dihindari. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana negara ini berani untuk melakukan perubahan pada elemen-elemen penting dalam sistem pendidikan. Hasilnya diharapkan perbaikan mutu pendidikan yang menghasilkan keluaran yang bermutu dan mampu bersaing dengan negara-negara maju.

Selama ini, pembelajaran kita hanya mengedepankan nilai. Kalau boleh dikata, pembelajaran Indonesia lebih mengagung-agungkan nilai. Bagi seorang murid, nilai adalah sangat penting. Lebih parah, pendidik dan orang tua murid sendiri lah yang memandang keberhasilan seorang murid dengan melihat seberapa besar nilai yang diperoleh oleh seorang murid. Nilai bagus dalam ujian akhir ataupun tes menjadi ukuran untuk pengangkuan “ terdidiknya seseorang”. Penentuan terdidik ataupun tidak terdidik seseorang hanya ditentukan oleh ranking. Semakin tinggi ranking nilai yang didapat, semakin tinggi pula pengangkuan masyarakat terhadap seseorang yang sangat terdidik (well educated). Substansi pendidikan sering kali dilupakan. Peserta didik hanya dicekoki materi-materi untuk dihafalkan memalui metode drill, try out, dll tanpa adanya upaya penanaman konsep sehingga peserta didik memperoleh materi yang mampu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berinovasi dan berkreasi. Metode menghafal sering kali menjadi pilihan utama untuk mendapat nilai bagus(tinggi). Metode itu hanya bertahan (maap) ketika peserta didik menghadapi ulangan umum atau ujian. Setelah selesai menempuh ulangan harian, peserta didik akan lupa apa yang sedang dipelajarinya. Peserta didik tidak mampu memetik setiap lesson learn setiap pembelajaran yang diberikan oleh pendidik.
Dunia persekolahan tidak mengajar anak didik untuk berpikir, untuk ekspoloratif dan kreatif. Seluruh suasana dan gaya persekolahan adalah penghafalan tanpa pengertian yang memadai, taat kepada komando, sedangkan bertanya apalagi berpikir kritis praktis adalah tabu. Siswa tidak didik tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut – tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang “pintar dan terampil” dalan sirkus.

Tuntutan seorang orang tua yang akan membanggakan diri ketika peserta didik mereka mendapat nilai tinggi atau seorang pendidik yang dapat membanggakan diri di Kepala Dinas atau sekolah lain ketika sekolah mereka meraih nilai tertinggi dalam ujian tidak mampu meningkatkan kepekaan emosi para peserta didik. Peserta didik hanya dituntut secara akademis harus mampu bersaing tanpa mematrikan sebuah konsep ilmu yang akan dia bawa hingga akhir hayat. Peserta didik tumbuh dan kembang bukan mewakili watak mereka masing-masing namun tumbuh dan kembang sesuai dengan keinginan orang tua atau pendidik.

Pembelajaran yang membelenggu tersebut, menurut Foucoult dalam The Arceology, adalah pembelajaran yang hanya mengedepankan transfer knowledge semata. Tidak ada upaya menjadikan pembelajaran yang membebaskan yakni pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses transformasi yang diuji dalam kehidupan nyata. Bagaimana menjadikan peserta didik tumbuh dengan karakter terdidiknya menjadi pribadi yang utuh dan mampu memberikan kontribusi nyata pada kehidupan adalah yang menjadi pekerjaan rumah sistem pendidikan di Indonesia.
Paradigma terdidiknya orang dengan nilai semakin memperburuk pendidikan di Indonesia. Sebagaimana catatan dari UNDP pada tahun 2003, mutu pendidikan Indonesia menduduki urutan ke-173, jauh di bawah Malaysia dan Thailand.

Pendidikan dalam arti sebenarnya adalah proses pendewasaan seseorang dengan menggunakan segala potensi yang ada di dirinya sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan. Proses pendewasaan tersebut dilakukan oleh manusia karena manusia adalah makhluk terdidik dan makhluk mendidik.

Pendidikan bukan saja hanya interaksi aktif dari pendidik ke peserta didik namun interaksi multi arah antara peserta didik, pendidik, dan lingkungan. Dengan demikian, pendidik bukan lah satu-satunya sumber pembelajaran. Pengembangan potensi peserta didik tidak hanya dalam sebatas ranah kognitif namun juga afektif serta psikomotorik. Nilai tidak satu-satu hal yang menjadikan sesorang berhasil / tuntas dalam pendidikan. Kognitif bahkan tidak menjadi nomer satu dalam pendidikan. Tidak ada guna ketika seseorang dengan nilai akademik tinggi, pengetahuan luas tapi kurang mampu memanfaatkannya untuk lingkungannya. Manusia mampu meningkatkan kesejahteraannya melalui pendidikan.

Pembelajaran seharusnya mengedepankan pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri secara akademis dan emosional secara seimbang. Tak hanya kemampuan otak saja yang harus diutamakan namun kemampuan ketrampilan hidup yang akan menuntun peserta didik dalam keberhasilan hidup. Pendidikan saat ini hanya memperhatikan intelektualitas belakan dan tidak memerdekan peserta didik.

Pendidikan yang hanya mengedepankan intelektual terkait dengan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) pendidik. Pendidik kurang mampu mengarahkan peserta didik untuk mengelola potensi diri seoptimal mungkin dan bukan hanya mengandalkan otak sebagai modal untuk mencapai orang yang “terdidik”. Konsep-konsep penting dalam ilmu pengetahuan tidak mampu ditanam ke dalam jiwa dan pikiran peserta didik oleh seorang pendidik. Kurang adanya pemahaman bahwa mendidik adalah mendewasakan pola pikir orang menjadikan pendidikan di Indonesia mencetak sarjana-sarjana yang tidak mampu mengatasi persoalan hidup.
Bukan saatnya, kita menciptakan manusia yang hanya mampu beradu argumentasi tanpa mampu menghadapi tantangan hidup dan mengambil segala resiko dan kesempatan dengan penuh tanggung jawab. Output pendidikan menjadi tanda tanya besar saat ini. Banyak orang dengan ijazah tinggi namun tidak bekerja dan hal tersebut memperburuk pembangunan yang sedang dijalankan saat ini. The highest function of education is to bring about an integrated individual who is capable of dealing with life as a whole. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.

Pembelokan pengertian pendidikan di Indonesia menuntun mutu pendidikan Indonesia sulit maju. Peserta didik bukan lagi subjek pendidikan namun telah berubah menjadi objek pendidikan oleh pendidik yang dengan mudah hanya mengangguk ketika terjadi transfer knowlegde dari pendidik. Peserta didik tidak diberikan ruang yang bebas dalam mengekploitasi seluruh potensi yang ada di dalam diri. Output menjadi tidak berkompeten. Dalam praktek pendidikan di Indonesia, telah terjadi pembunuhan karakter peserta didik. Hasilnya output menjadi yes man. Pendidikan tidak sama dengan pengajaran yang hanya memberikan materi melalui one way communication.

Kemajuan bangsa ditentukan dari kualitas sumber daya yang membawa arah negara menuju perdaban. Kualitas meningkat seiring dengan meningkatnya sistem pendidikan yang memberikan ruang kepada orang untuk lebih berkeasi dengan segala potensi diri tanpa terbelenggu oleh apa pun. Negara terpuruk dihasilkan karakter masyarakat yang lemah dan tidak mampu menghadapi masalah nyata.

Peningkatan kualitas sumber daya pendidik sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dengan yang lain. Profesionalisme menjadi fokus utama dalam perekrutan tenaga pendidik sehingga mampu menuntun peserta didik ke tingkat pendewasaan. Lebih lanjut, sistem evaluasi pendidikan untuk peserta didik diubah. Evaluasi bukan hanya tes tertulis dan peserta didik tidak akan semalam suntuk menghapal materi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Pendidikan memberikan pengalaman kepada peserta didik sehingga mampu diinget sepanjang hayat oleh peserta didik. Konsep pendidikan sepanjang hayat perlu diperkenalkan untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.

Sertifikasi : Profesionalisme Guru vs Tunjangan Profesional?

•Januari 2, 2008 • & Komentar

Pendidikan adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjadikan manusia makhluk yang beradab. Pendidikan sangat penting dalam upaya menaikkan martabat diri dan juga bangsa. Bermartabatnya sebuah negara menunjukkan bermatab pula penduduk negara tersebut.

Setiap makhluk di bumi ini memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Pendidikan menjadi hak dasar bagi manusia tanpa kecuali. Sebagiaman telah disepakati secara global, setiap negara berkewajiban memberikan pendidikan yang layak untuk setiap warganya. Dalam sebuah konferensi dunia, pendidikan harus ditujukan untuk semua (Education For All). Konsep Education For All (EFA) memberikan kesempatan kepada setiap manusia mengembangkan segala potensi diri melalui pendidikan yang bermutu dan bukan pendidikan yang asal-asalan.

Berdasarkan hal tersebut, negara sangat berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan yang layak bagi warganya. Pendidikan yang berkualitas dan mampu mengangkat derajat warga. Pendidikan juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Negara perlu membentuk pendidikan yang mampu melahirkan generasi baru yang memiliki wawasan tentang makna kehidupan serta persoalan bangsa pada masa yang akan datang (Kompas, 9 Mei 2007).

Dalam pembukaan Undang Undang Dasar 194, tecantum salah satu tujuan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujua tersebut dicapai dengan melaksanakannya sistem pendidikan yang berkualitas. Saat ini, bangsa Indonesia tengah merupaya mengangkat derajat pendidikan untuk sejajar dengan negara-negara berkembang lainnya. Upaya itu sangat bersinergi dengan kesajajaran bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain. Pendidikan Indonesia menduduki peringkat ke 173, jauh di bawah Malaysia pada peringkat 55, China pada peringkat 96, Thailand pada peringkat 70, dan Vietnam pada peringkat 109 (UNEP, 2003). Kondisi yang sangat memprihatinkan. Dengan melihat peringkat tersebut, dapat diperoleh gambaran penduduk di masing-masing negara. Penduduk di negara mana yang lebih sejahtera?

Kondisi rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dipicu oleh beberapa sebab: sarana dan prasarana, kurikulum, anggaran pendidikan, sumber daya (guru), buku ajar, metode dan isi pembelajaran, dll. Salah satu yang sangat pelik permasahan tersebut muncul dari rendahnya mutu sumber daya, dalam hal ini guru. Guru memegang peranan kunci tehadap maju mundurnya sebuah pendidikan dalan satuan pendidikan. bagaimana produk-produk pendidikan tersebut terbentuk tergantung pada kemana pendidikan tersebut dibawa oleh seorang guru. Banyak guru di Indonesia tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan profesi guru. Kualifikasi akademik dari sebagian besar guru pun tidak sesuai.

Terpuruknya kondisi pendidikan Indonesia mendorong pemerintah terus berupaya pada peningkatan mutu pendidikan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah menaikkan standar lulusan pada satuan pendidikan melalui Ujian Akhir Nasional (UAN). Selanjutnya, pada tahun 2007, untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guru yang pada ujungnya akan meningkatkan mutu pendidikan, Pemerintah Indonesia mencoba membuat kebijakan sertifikasi guru.

Sertifikasi, secara elit, memberikan kesempatan kepada guru yang memenuhi kualifikasi sebagai guru diuji oleh tim penguji untuk mendapatkan sertifikat yang menunjukkan keprofesionalisan seorang guru. Reward dari ujian tersebut adalah guru mendapatkan dua poin yakni tambahan tunjangan profesional sebesar 1 kali gaji.

Kebijakan tersebut sedikit memberi gambaran kepada awam bahwa penjaminan kesejahteraan akan meningkatkan produktifitas dan efesiensi dalam melakukan pekerjaan sebagai guru. Output pun dihasilkan, lulusan yang qualified dan mampu mengangkat derajat bangsa.

Dengan iming-iming ekonomis, pelaksanaan sertifikasi menimbulkan beberapa permasalahan baru yang cukup pelik. Peserta sertifikasi berupaya mendapatkan nilai tinggi dengan mengumpulkan beberapa “surat keterangan”. Apakah dengan aktifnya seorang guru di organisasi masyarakat menjamin profesionalisme dia dalam mendidik peserta didik? Bagaimana proses monitoring penjaminan seorang guru akan terus profesional ketika dia telah tersertifikasi dan mendapatkan tunjangan lebih? Apakah mutu pendidikan Indonesia akan meningkat melalui “surat keterangan”?

Guru dengan masa kerja lebih 20 tahun dan telah memiliki iajzah pendidikan S1 ataupun DIV, saat ini, berlomba-lomba mengumpulkan setumpuk kertas ke Lembaga Pendidik Tenaga Pendidikan (LPTK). Dengan susah payah, para guru tersebut rela meninggalkan jam sekolah dan mengurus segala keperluan guna mengikuti sertifikasi.

Ada yang menarik dari program ini. Program yang penuh kontrovesial ini, secara kasar menurut pandangan masyarakat awam, dilakukan guna meningkatkan mutu pendidikan yang semakin hari semakin tidak jelas bentuk serta kualitasnya. Sebagian guru memandang bahwa sertifikasi adalah upaya untuk menaikkan kesejahteraan guru sebab guru yang telah tersertifikasi. Sangat kontradiktif dengan tujuan yang ingin dicapai dengan dilaksanakannya sertifikasi.

10 unsur menjadi pedoman penilaian dalam sertifikasi. 10 unsur tersebut secara keseluruhan dapat mencapai poin 1500. Guru dapat dikatakan tersertifikat ketika dia mampu mengumpulkan poin 850 (57%). Unsur tertinggi dalam penilaian tersebut adalah kualifkasi akademis. Sudah barang tentu dapat dipastikan jika para peserta sertifikasi akan mendapat nilai 525. Sisa poin didapatkan dari lembaran kertas yang menyatakan guru tesebut aktif dalam organisasi sosial di luar kegiatan belajar mengajar. Hasilnya, guru akan mencari-cari bukti-bukti otentik yang menunjukkan bahwa mereka juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan selain pembelajaran.
Potensi kecurangan sangat besar. Lembaran kertas tesebut dapat jadi hanya fiktif. Karakteristif orang Indonesia dengan budaya ewuh pekewuh menjadikan pencarian lembaran-lembaran berkop tersebut sangat mudah. Lebih lanjut, bukti-bukti tertulis yang terkumpul menjadi sangat sulit untuk diverifikasi. Bagaimana cara pembuktian seorang telah mengikuti dan aktif dalam sebuah organisasi masyarakat, forum ilmiah? Apakah lembaran kertas lebih berharga daripada kompetensi yang kasat mata?
Guru sangat identik dengan kegiatan belajar mengajar. Sudah seharusnya bukti seorang guru yang berkompeten adalah bagaimana dia merancang serta mengelola pembelajaran. Semakin baik perencanaan serta pengelolaan pembelajaran, dapat dipastikan semakin baik pula kualitas produk-produk pendidikan yang telah dia kelola. Sangat mudah untuk membuktikan guru yang profesional serta berkompeten. Bukan lembaran kertas ataupun buku administrasi yang lengkap dan kemudian menyebut guru tersebut sangat berkompeten dan profesional.

Sertifikasi menjebak guru dalam lingkaran kompetensi administrasi yang penuh dengn manipulasi. Guru calon peserta sertifikasi akan selalu berkutik pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya normatif dan bukan lagi pengembangan metode pembelajaran di kelas. Guru akan terus mengumpulkan portofolio dan bukan berusaha mengembangkan diri untuk kegiatan pembelajaran yang bermutu. Unsur perencanaan dan pengelolaan pembelajaran hanya dapat memberikan poin 160 dari 1500. Sungguh sangat konyol takkala profesi guru yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran hanya dinilai 10 % saja.

Guru yang sudah mendapatkan sertifikat akan memperoleh tunjangan profesi, sementara sebagian lainnya belum, padahal kewajiban para guru untuk melaksanakan proses belajar mengajar adalah sama. Kondisi tersebut berdampak pada konflik horizontal antar guru. Jika memang tujuan dari sertikifasi guru adalah memberikan kesejahteraan bagi guru, mengapa tidak semua guru mendapat tunjangan yang sama. Adakah alat verifikasi yang tepat dan akurat terhadap orang yang tersertifikasi terhadap peningkatan profesional dan berakibat pada naiknya mutu pendidikan? Bagaimana sistem monitoring guru tersertifikat tersebut?
Dalam pelaksanaan sertfikasi, pemerintah menunjuk salah satu LPTK untuk menguji apakah seorang guru lolos sertifikasi. Penguji-penguji tersebut adalah dosen ataupun asessor dari LPTK tersebut. Pertanyaannya adalah sudahkan penguji-penguji tersebut mendapatkan sertifikasi? Bagaimana mungkin guru peserta sertifikasi diuji oleh penilai yang belum tersertifikasi. Secara logis, hal tersebut memberi gambaran bahwa mutu guru yang telah tersertifikasi oleh penilai yang tidak tersertifikasi diragukan. Selanjutnya, bermutukah pendidikan yang diuji oleh penilai yang tidak teruji juga?

Sertifikasi memberikan peluang kepada guru dengan pendidikan S1. Saat ini, banyak guru di lingkup Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berijazah S2 sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Dalam sertifikasi guru, belum ada ketentuan yang jelas bagaimana mengkonversi izajah tersebut ke dalam poin. Jika dalam unsur penilaian menunjukkan poin 525 untuk kualifikasi akademik, ini mengisyaratkan bahwa kualifikai S2 akan mendapatkan nilai 1050.

Program sertifikasi guru hanya dikhususkan bagi guru-guru yang tinggal di daerah kota. Dengan akses yang mudah, guru di kota dalam melakukan apa saja untuk menaikkan portofolio. Berbagai akses pelatihan, forum ilmiah, dan ormas dapat dengan mudah diikuiti oleh guru. Hal tersebut menjamin tingginya poin sertifkasi dan meloloskannya menjadi guru bersertifikasi. Konsekwensi logis, tunjangan profesional akan naik sebesar 1 kali gaji pokok. Kehidupan akan naik. Kondisi tersebut sangat berlawanan dengan kondisi yang ada di desa. Guru-guru di desa sebagian besar tidak sesuai dengan kompetensinya. Hal tersebut lebih banyak disebabkan karena kebutuhan yang mendesak akan pendidikan di wilayah desa. Akses mengikuti pelatihan, forum ilmiah, dan ormas pun sangat kecil dan tidak sebesar di kota. Akibatnya, portofolio yang meraka dapatkan pun sedikit, tidak sebesar apa yang didapatkan oleh guru di kota. Penilaian kelulusan uji sertifikasi mengutamakan kelayakan atau riwayat kerja seorang guru (Kompas, 11 April 2007)
Sudahkah sertifikasi mewakili penningkatan profesionalisme guru demi peningkatan mutu pendidikan Indonesia?