Refleksi Pembelajaran Sekolah Tomoe (Totto-Chan, Karya Tetsuko Kuroyanagi) Pada Pembelajaran Sekolah Indonesia………..
Pendek kata, semua murid Tomoe melakukan apa yang mereka sukai dengan cara yang mereka sukai. (hal 194)
Sistem pembelajaran yang sangat tepat ! itulah pertama kali yang terlintas dalam benak saya ketika membaca buku Totto Chan. Memang, sudah saatnya pembelajaran di Indonesia diubah.
Selama ini, pembelajaran kita hanya mengedepankan nilai. Kalau boleh dikata, pembelajaran Indonesia lebih mengagung-agungkan nilai. Bagi seorang murid, nilai adalah sangat penting. Lebih parah, guru dan orang tua murid sendiri lah yang memandang keberhasilan seorang murid dengan melihat seberapa besar nilai yang diperoleh oleh seorang murid.
Metode menghafal sering kali menjadi pilihan utama untuk mendapat nilai bagus(tinggi). Metode itu hanya bertahan (maap) ketika siswa menghadapi ulangan umum atau ujian. Setelah selesai menempuh ulangan harian, siswa akan lupa apa yang sedang dipelajarinya. Siswa tidak mampu memetik setiap lesson learn setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Tuntutan seorang orang tua yang akan membanggakan diri ketika anak mereka mendapat nilai tinggi atau seorang guru yang dapat membanggakan diri di Kepala Dinas atau sekolah lain ketika sekolah mereka meraih nilai tertinggi dalam ujian tidak mampu meningkatkan kepekaan emosi para siswa. Siswa hanya dituntut secara akademis harus mampu bersaing tanpa mematrikan sebuah konsep ilmu yang akan dia bawa hingga akhir hayat. Siswa tumbuh dan kembang bukan mewakili watak mereka masing-masing namun tumbuh dan kembang sesuai dengan keinginan orang tua atau guru.
Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang denga mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa.
…………segala sesuatu yang alamiah dan ingin agar karakter anak-anak berkembang sealamiah mungkin. (hal 251)
Pembelajaran seharusnya mengedepankan pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri secara akademis dan emosional secara seimbang. Tak hanya kemampuan otak saja yang harus diutamakan namun kemampuan ketrampilan hidup yang akan menuntun anak dalam keberhasilan hidup.
Melalui life skill, anak mampu menumbuhkembangkan kepekaan mereka terhadap kondisi lingkungan sekitar mereka. Bukan saatnya, kita menciptakan manusia yang hanya mampu beradu argumentasi tanpa mampu menghadapi tantangan hidup dan mengambil segala resiko dan kesempatan dengan penuh tanggung jawab.
Entah bagaimana, kehidupan sehari-hari di Tomoe telah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh mendorong orang yang lebih kecil atau lemah daripada mereka, bahwa bersikap tidak sopan berarti mempermalukan diri sendiri, bahwa setiap kali melewati sampah mereka harus mengambil dan membuangnya ke tempat sampah, dan bahwa mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain kesal atau terganggu. (hal 95)
Selama ini, siswa kita tidak diberi kesempatan berbicara yang cukup. Alhasil, banyak siswa kita tidak berani mengungkapkan pendapat mereka hingga mereka dewasa. Kebebasan mereka seolah-olah direnggut oleh seorang guru yang menginginkan siswa mereka duduk, diam, mencatat, dan mendengarkan.
Bukankah yang terpenting dalam kehidupannya adalah life skill atau ketrampilan hidup seseorang? Tak sedikit yang berhasil dalam kehidupan ini adalah mereka yang mempunyai semangat, ketrampilan hidup dan life skill yang tinggi.
Anak mempunyai dunia sendiri yang kita (orang dewasa) tidak dapat mengintervensi sedikit pun kepentingan mereka. Biarkanlah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan cara mereka. Cara itulah yang akan menuntun mereka untuk selalu bersikap ilmiah. Dengan sendirinya, anak akan menemukan konsep-konsep ilmu yang akan terpatri di benak mereka selamanya hingga mereka tumbuh dewasa.
Motivasi sangat perlu untuk menumbuhkan rasa konfiden dalam diri anak. Tak jarang kita dapat menemukan sikap rendah diri anak. Anak merasa apa yang telah dilakukannya salah. Guru dan orang tua lah yang benar. Sikap semacam itu membuat anak tidak dapat mengembangkan ide dan kreatifitas diri yang pada akhirnya mengurung pola pikir anak.
Sekarang, bagaimana kita menyikapi hal itu? Semuanya terserah pada kita calon orang tua yang kelak memiliki buah hati yang juga mempunyai kehidupan sendiri.

Entah bagaimana, kehidupan sehari-hari di Tomoe telah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh mendorong orang yang lebih kecil atau lemah daripada mereka, bahwa bersikap tidak sopan berarti mempermalukan diri sendiri, bahwa setiap kali melewati sampah mereka harus mengambil dan membuangnya ke tempat sampah, dan bahwa mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain kesal atau terganggu. (hal 95)
Paragraf diatas sangat membuat saya sangat terkesan……
Betapa segala sesuatunya diajarkan kepada siswa Tomoe secara alamiah. Anak dibiarkan berkembang sesuai daya pikirnya.Tidak ada unsur paksaan. Dengan sistem pendidikan yang demokratis, kelak anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi tapi tidak berlebihan sehingga tetap mampu menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
saya baru saja selesai membaca totto-chan. Dan menurut saya, novel ini sangat hebat ! saya sangat terkesan dengan cara mengajar Mr. Kobayashi ! andai saja cara mengajar kepala sekolah bijak tersebut bisa di terapkan di indonesia, pasti tidak akan ada anak yang merasa rendah diri.
saya sering berpikir akhir – akhir ini.. kalau betapa beruntungnya tetsuko karena pernah mengenal Mr. kobayashi. merasakan kasih sayangnya dan pengertiannya yang luar biasa terhadap anak – anak.
Jika di indonesia ada sekolah seperti tomoe gakuen, pasti saya akan langsung meminta ibu untuk mendaftarkan diri saya di sana. Bukan hanya keleluasaan dalam hal memulai mata pelajaran..
tapi juga eratnya persahabatan, kejujuran, rasa percaya diri, kebebasan berekspresi, kasing sayang, dan pengertian yang luar biasa dari sekolah itu.
saat membaca totto-chan, saya berkhayal betapa indah dan menyenangkannya bisa bersekolah di sana. Ya..Masa – masa itu pasti sangat menyenangkan..
sayang,, tomoe gakuen terbakar habis..sehingga kita kesulitan untuk melihat sekolah hebat itu. sekolah yang di dalam maupun diluarnya hebat.. tapi saya yakin.. bahwa tomoe gakuen masih tetap berdiri megah dalam ingatan murid – muridnya…
saya senang bisa memberikan komentar tentang tomoe gakuen dan totto-chan.. dan saya senang karena saya pernah membacanya.. tomoe gakuen kini tdak hanya berdiri dlm ingatan murid-muridnya..dan menjadi milik murid- muridnya..
tapi, kini tomoe gakuen juga ada dan menjadi milik pembacanya,, termasuk saya..
saat pertama kali menjadi seorang guru, tidak dapat dibayangkan betapa senangnya dan meggairahkannya pekerjaan ini. orang yang ditemui berbeda, karakter yang ditemui berbeda, ekspresi yang ditemui pun berbeda dalam waktu yang bersamaan terlebih pada waktu yang berbeda.
hanya saja kenyataan dan berbeda dengan impian kita…seperti Tomoe gakkuen, yang pastinya merupakan mimpi dari setiap guru dan murid sejati. hubungan yang dekat dengan para murid membuat murid mengalami masa pembelajaran yang efektif itu kata buku totto chan yang tak pernah membosankan untuk dibaca, hanya dalam pendidikan Indonesia, hal itu dapat berubah menjadi bumerang yang berbahaya. dimana, hubungan yang dekat dengan murid dipandang negatif, jika mereka kaya, orang tua mungkin akan berpikir bahwa guru mengejar sesuatu..dalam hal ini keuntungan..tetapi sebaliknya jika anak mereka bermasalah yang disalahkan adalah perangai guru..
Tanpa adanya perhatian dari guru banyak orang mengatakan murid akan mengalami kesulitan, tanpa pengertian dari guru, tanpa dukungan dari guru murid akan menemui hambatan…
Hanya saja menjadi gru memang merupakan tugas mulia yang dengan mudah dilupakan, dihina, disalahkan, tapi sulit untuk diingat, dihargai dan dilalui…
ya..perhatian terhadap murid kadang berubah menjadi senjata mematikan yang berbahaya bagi guru..Totto chan..ya mungkin jika saya menjadi gurunya, saya akan melupakan pandangan ini dan mungkin tidak akan pernah menulis posting ini. Sebab ia sangat mengerti, dan orang tuanya juga sangat mengerti akan perlunya perhatian guru….
begitu sulitnya..
guru menempatkan diri antara tidak memberi perhatian dalam masalah murid di dalam hingga di luar sekolah atau tidak peduli pada murid dan pengalaman, permasalahan, juga perasaan mereka selama nilai mereka baik-baik saja
sehingga
kadang guru bingung bersikap
bahkan ada juga yang langsung menjadi apatis..
fiuhh…
berat memang…
guru manapun, tingkat berapapun pasti mengalaminya..
upss menurut saya hanya pada guru yang mengajar bukan mengejar gaji dan nama baik hahaha…
kasar memang tapi itulah yang banyak kita temu..
Hidup GURU SEJATI..
pendidik yang memperhatikan murid..hingga bingung bersikap
(^_^)v
tidak semua orang yang telah menyelesaikan pendidikan guru mampu mengajar. guru harus bisa memaknasi sebutan “GURU”…bagaimana seharusnya guru memanifeskan dirinya menjadi agen pendewasa dan perubahan bagi seluruh anak didiknya…
saya membaca novel itu secara berseri dari majalah Ayahbunda edisi ‘jadul’ yang dengan sangat telaten dibundel Almarhumah ibuku. Disebuah bundel aku menemukan novel itu disadur secara berseri dan membuatku terus mencari novel itu baik via internet maupun novel terbitan indonesianya.
Hm…. kini saya punya dua anak perempuan balita yang sedang tumbuh.novel ynang menggambarkan cara mendidik anak-anak dengan fair, komprehensif. saya salut dengan ibu Totto Chan, Kepaala sekolah kobayashi, dan tentu saja sistem pendidikannya.
Anak-anak kita bukan batu yang kita pahat seenak kita, namun tak kita pikirkan perasaannya. Murid-murid yang tawuran disekolah-sekolah kita, remaja-remaja yang terkikis kepercayaan dirinya adalah gambaran kegagalan pendidkan dasar di sekolah dan-dirumah.Saya sangat mengapresiasi guru-guru TK, SD sebab dimasa-masa itu, anak-anak sangat peka dan luar biasa memiliki potensi kepekaan, kepatuhan alamiah, kekritisan.
Terimakasih untuk novel ini yang membuat saya belajar terus menerus menjadi seorang kyoiku mamma, ibu pendidik.