Dampak Perubahan Iklim di Jawa Tengah
Kenaikan suhu bumi secara global sangat terasa dalam beberapa tahun terakhir ini. Panas yang menyebar secara merata di seluruh permukaan bumi, memicu perubahan pola angin dan juga pola arus di laut. Semakin panas suhu bumi, pola angin menjadi lebih kencang. Hal tersebut mengakibatkan tingkat penguapan di laut lepas menjadi semakin besar. Uap menuju ke angkasa dan terjadi kenaikan kosentrasi uap air. Akibatnya terjadilah hujan dengan intensitas yang tinggi.
Dengan berubahnya pola angin, berubah pula iklim di suatu wilayah. Iklim perpengaruh terhadap cuaca yang terjadi. Seperti halnya yang terjadi di Jawa Tengah, perubahan iklim secara global mengubah tatanan cuaca yang telah berlangsung lama. Sebagaimana diketahui, musim penghujan terjadi pada bulan Oktober hingga April, namun yang terjadi beberapa tahun terakhir adalah pergesaran musim. Musim penghujan dirasakan lebih pendek dan datang terlambat. Sebaliknya, musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung sangat lama.
Berdasarkan sumber dari tempointeraktif.com, 104.744 hektare sawah di Demak, Kudus, Pati, Grobogan, dan Jepara mengalami kekeringan. Kekeringan ini diperburuk oleh penutupan Waduk Kedungombo untuk pertanian karena ketinggian air tinggal 78 meter, dari batas toleransi 80,53 meter. Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Jawa Tengah mengancam ketahan pangan tidak hanya di Jawa Tengah sendiri namun juga Indonesia karena Jawa Tengah adalah wilayah pemasok terbesar padi nasional.
Dampak kedua adalah bencana longsor di sebagian besar wilayah Jawa Tengah. Penguapan yang besar mengakibatkan intensitas hujan semakin besar. Hujan berlangsung singkat namun kepadatan hujan tinggi. Daerah-daerah dataran tinggi seperti Karanganyar, Purworejo, Banyumas Banjanegara, dll bersiko terkena ancaman tanah longsor.
Sepanjang tahun 2007, bencana tanah longsor karena hujan yang terus menerus mengguyur terdapat 11 kejadian tanah longsor. Yang terakhir adalah yang terjadi di penghujung tahun 2007, tepatnya pada tanggal 26 Desember di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Enam puluh satu orang tewas karena tertimbun longsor. Longsor tersebut disebabkan karena hujan yang mengguyur beberapa hari tanpa henti.
Puluhan nyawa melayang dan puluhan rumah tertimbun tanah karena tanah longsor. Tanah longsor merupakan dampak karena pola musim yang telah berubah. Intensitas hujan yang terjadi semakin banyak setiap harinya. Hal tersebut diperparah dengan kondisi daerah tangkapan air yang mulai berkurang di wilayah-wilayah rawan longsor.
Naikknya intensitas air hujan juga memicu terjadinya bencana banjir di daerah rawan banjir. Banjir mengancam dan menghancurkan harapan ribuan petani di wilayah Demak, Kudus, Solo, Kendal, Tegal, Pemalang, Rembang, Jepara, dan sepanjang wilayah Jawa Utara. Setidaknya ada ribuan petani 16 kota/kabupaten terancam tidak panen karena ribaun hektar area sawah tergenang oleh banjir. Total tanaman padi yang kebanjiran di Jateng sekitar 35.708 ha dengan 11.916 ha puso (BAPPENAS, 2007). Di Jawa Tengah sebanyak 25,3 ha tanaman pisang, cabe, bawang merah dan kacang panjang yang tersebar di Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Demak dan Sragen terkena banjir dengan tingkat puso mencapai 11 ha.
Berdasarkan sumber dari Badan Kesatuan dan Perlindungan Masyarakat Propinsi Jawa Tengah, terdapat 123 kejadian banjir di Jawa Tengah sepanjang tahun 2007. Dengan curah hujan mencapai puncak hingga 500 milimeter per bulan, air hujan yang turun berubah menjadi ancaman bagi seluruh warga Jawa Tengah. Banjir telah mengancam pemukiman, pertanian, dan usaha lainnya serta banjir telah menyebabkan kerugian hingga Rp 23,52 miliar. Bahkan intensitas hujan yang tinggi juga terjadi pada awal tahun 2008. Volume air hujan yang besar mengakibatkan daya tampung air di dalam badan sungai tidak muat. Kondisi tersebut juga diperparah dengan adanya pendangkalan di badan sungai. Akibatnya, air meluap dan banjir tidak dapat dihindari. Hal tersebut terjadi di sungai Bengawan Solo dan Juwana. Air yang meluap menggenangi puluhan ribu hektar lahan pertanian dan permukiman di sekitarnya.
Banjir di wilayah Kudus dan sekitarnya melumpuhkan seluruh aktivitas kehidupan. Sektor transportasi dan juga perikanan mengalami kerugian karena banjir. Infrastruktur mangalami kerusakan. Beberapa ruas jalan di sepanjang pantai utara yang tergenang air banjir mengalami kerusakan. Transportasi baik perdagangan maupun jasa di daerah tersebut lumpuh. Ratusan juta hilang karena kagiatan perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banjir juga mengancam ribuan nelayan tambak di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Ikan tambak siap panen hilang disapu banjir. Budidaya ikan tampak merugi. Ratusan nelayan tambak merugi karena gagal panen.
Naiknya permukaan air laut karena perubahan iklim mendorong terjadinya abrasi di wilayah pesisir pantai wilayah Jawa Tengah Utara. Suhu tinggi secara global akibat dari perubahan iklim membuat es di wilayah kutub Utara mencair volume air laut bertambah karenanya sehingga permukaan air laut akan mengalami kenaikan. Lebih lanjut, angin yang telah berubah polanya mendorong air ke wilayah pantai secara besar-besaran. Kondisi wilayah pesisir Jawa Tengah yang tanpa adanya penahan gelombang baik buatan maupun alami (mangrove) sangat dengan mudah terkikis karena hasutan air laut yang terjadi secara besar dan terus menerus. Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, 10.000 hektar tambak hilang karena abrasi sepanjang tahun 2000-2003.
Meningkatnya suhu mengakibatkan tekanan udara semakin besar. Badai di laut lepas akan semakin sering terjadi. Beberapa kejadian badai angin juga terjadi di wilayah Jawa Tengah. Angin putting beliung menghantam delapan rumah dan sebuah bangunan sekolah dasar di Banyumas, Jawa Tengah, 6 Februari 2007. Beberapa waktu yang lalu, angin putting beliung juga mengakibatkan belasan rumah di wilayah Kemijen, Semarang porak poranda dan satu jiwa melayang karena tertimpa pohon tumbang. Fenomena alam ini jarang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun yang lalu. Namun kenyataannya, kejadian tersebut mengalami peningkatan dalam frekuensi.
Dampak perubahan iklim sangat nyata dialami oleh warga Jawa Tengah. Jawa Tengah sangat rentan dan rawan terhadap dampak perubahan iklim. Dari kejadian bencana yang terjadi di wilayah Jawa Tengah, seluruh bencana adalah dampak dari perubahan iklim yakni kekeringan, banjir, angin putting beliung, dan tanah longsor. Kesemuanya adalah dampak yang dapat dilihat secara kasat mata. Namun ada yang lebih besar dan jauh lebih penting dibanding dampak alam tersebut yakni dampak social dan ekonomi. Berapa kerugian yang diakibatkan adanya perubahan iklim. Petani yang gagal panen karean banjir dan kekeringan, nalayan tambak yang kehilangan ikannya, nelayan laut yang berhenti melaut karena badai, pedagang yang terhambat mobilitasnya karena banjir, dan masih banyak lagi dampak-dampak social dan ekonmi lainnya yang lebih penting dan krusial untuk segara dicari pemecahannya.
Ketahanan pangan adalah salah satu prioritas sebagai dampak dari perubahan iklim. Perubahan iklim sudah terjadi dan tidak dapat dihindari. Dampak-dampak tersebut mulai dapat dirasakan saat ini. Dampak tidak perlu disesali namun memerlukan upaya penyesuaian terhadap dampak-dampak tersebut. Bagaimana kita, masyarakat Jawa Tengah yang sangat rentan dengan dampak-dampak tersebut, berupaya mengurangi resiko yang jauh lebih besar. Upaya mitigasi pun harus dilakukan sedini mungkin untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Mitigasi dan adaptasi harus dilakukan secara sinergis antara masyarakat dengan pemerintah daerah.

Tinggalkan Balasan