EKSISTENSI KARAKTER PEMIMPIN CALON GUBERNUR JAWA TENGAH MELALUI JARGON
Upaya menampakkan diri melalui jargon menjadi salah satu alternative pilihan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan puncak yakni dipilih oleh masa. Fenomena perang spanduk (jargon) di jalan oleh calon gubernur Jawa Tengah marak akhir-akhir ini. Apa yang sebenarnya mendasari meraka untuk melakukannya?
Calon gubernur sudah pasti calon pemimpin. Jargon yang dengan mudah ditemui di tempat-tempat strategis sebenarnya merupakan cerminan karakteristik diri ataupun organisasi. Mengapa organisasi? Seorang dapat mencalonkan diri melalui mekaniskme kendaraan politik. Kendaraan politik dalam hal ini adalah sebuah organisasi. Dengan demikian, jargon yang diusung oleh calon-calon pemimpin tersebut adalah cerminan arah dari organisasi pengusung calon tersebut.
Calon-calon tersebut sudah barang tentu memiliki satu karakter yang orang awam tidak miliki yakni karakter seorang pemimpin. Karakter seorang pemimpin dapat dibaca melalui jargon-jargon yang dipublikasikan.
Bambang Sadono, dengan jargon “ Menuju Jawa Tengah Sejahtera” mencoba menampilkan karakter pemimpin yang rendah diri. Melihat Jawa Tengah yang tidak sejahtera, karakter yang rendah diri menawarkan sebuah perubahan pada suatu kondisi yang harus diubah kepada masa. Dengan sedikit arogan pula, Bambang berupaya memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa dialah yang mampu memberikan perubahan yakni menjadi sejahtera.
Karakter kepemimpinan tidak hanya rendah diri, arogan kepada lawan, berani, percaya diri, dan lain-lain namun karakter kepemimpinan dibangun secara utuh antara soft skill dan hard skill. Karakter kepemimpinan mencakup ambisi, keinginan, kejujuran, integritas, kepercayaan diri, kecerdasan otak, kecerdasan emosi yang kesemuanya merupakan penggabungan soft skill dan hard skill. A model of authentic leadership that integrates contextual, cognitive, affective, cognitive, and spiritual elements (Klenke: 2007).
Menurut pendapat penulis, karakter kepemimpinan tidak cukup pada karakter fisik dalam artian karakter yang dapat dengan mudah dibaca oleh orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang pemimpin memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Kecerdasaan spiritual, menurut hemat saya, menentukan kecerdasan emosi orang.
Dengan spiritual, jiwa akan terisi dan dengan otomatis emosi akan terkontrol. Hal ini adalah mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan emosi yang bagus, seorang pemimpin dapat melakukan pengambil keputusan dengan baik dan tepat.
Melihat jargon-jargon yang ditawarkan oleh sebagian besar calon gubernur, kesimpulan penulis adalah karakter kepemimpinan yang ideal belum mampu ditunjukkan. Meraka lebih pada memberikan sesuatu tawaran yang kasat mata.
Namun, menurut Penelitian yang dilakukan oleh Goleman dan kemudian dipublikasikan melalui International Journal of Scholarly Academic Intellectual Diversity Volume 8, Number 1, 2004 oleh Alicia Kritsonis, MBA Graduate Student, California State University, Dominquez Hills, karakter pemimpin menentukan gaya kepemimpinan yang dipakai kelak ketika calon gubernur tersebut menjadi pemimpin. Galmone juga menyatakan bahwa karakter pemimpin yang efektif adalah memiliki tingkatan yang tinggi dalam kecerdasaan emosi. Hal tersebut senada dengan pendapat penulis.
Kecerdasaan emosi tersebut meliputi kesadaran diri, peraturan diri, motivasi, empati, dan kecakapan social. Dengan melalui pengulangan, waktu, keinginan, serta usaha, kecerdasan-kecerdasan ini dapat memberikan dapat yang positif terhadap pencapaian hasil oleh sang pemimpin.
Kesadaran diri membuktikan akan kemampuan sang pemimpin dalam melakukan evaluasi dan intropeksi diri terhadap semua kemampuan dan potensi yang ada di dalam diri. Peraturan diri menyatakan sang pemimpin memiliki semacam komitmen dari awal yang harus dipegang teguh dan diwujudkan selama masa kepemimpinan. Motivasi merupakan dasar dari segala karakter yang ada dalam jiwa seorang pemimpin. Seorang pemimpin boleh jadi memiliki semua karakter pemimpin namun motivasi adalah dasar untuk mewujudkan semua karakter tersebut dijalani. Empati menjadi bagian dari seorang pemimpin untuk selalu melihat sekeliling. Sikap empati kepada lingkungan membawa seorang pemimpin menjadi good decision maker. Kecakapan social adalah bagaimana seorang pemimpin mampu melakukan komunikasi yang baik terhadap lingkungan dan organisasi. Bagaimana sang pemimpin mengomunikasikan kepada lingkungan dengan bahasa yang mudah dan mampu memberikan embati kepadanya.
Melihat piramida di atas, motivasi merupakan hal yang paling mendasar. Berdasarkan jorgan yang terpampang di tempat-tempat strategis, para calon pemimpin tersebut paling tidak memiliki motivasi untuk melakukan. Jargon-jargon tersebut sebagian besar mencerminkan adanya sesuatu yang harus berubah. Motivasi untuk meraih masa yang paling banyak dan menang tentunya.

Jargon untuk mengubah persepsi………Salam kenal bang
salam kenal juga bang…maap, ini bukan abang tapi empok..ahahahahahahahahahahahaha…..salam
hmm… setahuku pemimpin hebat itu adalah yang mampu mengayomi dan memberikan suritauladan yang baik bagi orang2 yang dipimpinnya
bener banget mabk cici…tapi masalahnya, sekarang orang-orang kita masih kemakan yang namanya jargon itu..kalo jargon mah mudah dibuat, mbah surip aja pinter..hehehehehehe