PEMBANGUNAN UNTUK KEHIDUPAN YANG BERKELANJUTAN
Menjadi sangat menarik ketika kita melihat dunia tumbuh dan berkembang dengan pesat. Teknologi dengan cepat merambah ke kawasan margin. Patut diacungi jempol bahwasanya peradaban manusia mulai berkembang dan dapat dikatakan telah menemukan jalannya. Dengan segala ilmu pengetahuan yang terus berkembang, pembangunan dan teknologi menjadi hal yang mudah bagi manusia. Begitu pula dengan segala fasilitas yang telah tersedia, memberikan jalan mulus bagi berkembangnya suatu kelompok masyarakat.
Pembangunan yang terjadi saat ini baik fisik maupun nonfisik dilakukan tidak secara komprehensif. Dalam artian, tidak semua aspek dalam kehidupun menjadi bahan pertimbangan kegiatan tersebut, sebuat saja aspek lingkungan. Sudahkan tersentuh? Banyak kasus yang dapat menjadi gambaran bagaimana pembangunan tidak mempertimbangan secara keseluruhan. Beberapa upaya pembangunan fisik seperti hotel dan pabrik tidak mengindahkan aspek lingkungan. Terbukti sedikit dari mereka membuat analisa tentang dampak lingkungannya (AMDAL).
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan salah satu programnya yakni Education for Sustainable Development mencoba membukakan mata kepada dunia akan pentingnya nilai keberlanjutan di setiap kegiatan pembangunan yang dilakukan. Hal itu berdasar pada kenyataan bahwa keluaran pembanguna selama ini belum mampu memberikan kehidupan yang sustain.
Selama ini, hanya memberikan peluang bagi pembangunan dari segi ekonomi saja namun telah melupakan lingkungan sebagai sumber dari kehidupan. Tak sedikit di beberapa bagian bumi, kondisi lingkungan menjadi menurun karena kurang adanya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya pengelolaan lingkungan sehingga keberlanjutan hidup dapat dicapai.
Penekanan pembangunan dan pertumbuhan pada segi ekonomi membawa pada pengabaian beberapa segi yang sebenarnya saling terkait yakni lingkungan dan juga ekonomi. Pencapaian pertumbuhan ataupun kehidupan ekonomi yang sesaat berdampak buruk pada keberlanjutan dari pembangunan itu sendiri. Ada tiga aspek utama yang menjadi komponen dasar dalam pembangunan berkelanjutan yang nantinya kalau ketiga aspek ini digarap secara menyeluruh akan membawa umat manusia pada kehidupan yang lestari. Ketiga aspek tersebut adalah aspek sosial, ekonomi, dan aspek lingkungan.
Lingkungan harus digarap dengan hati-hati mengingat ini adalah sumber kehidupan bagi manusia. Bisa dibayangkan bagaimana jika lingkungan tersebut rusak dan tak terawat? Boleh jadi hari ini kita bisa makan dan menikmati hidup, bagaimana dengan esok? Bagaimana dengan generasi di bawah kita? Dari mana mereka dapat mempertahankan hidup? Isu lingkungan memang manjadi isu yang krusial untuk saat ini dan masa yang akan datang.
Aspek kedua adalah asperk sosial. Ini berkaitan dengan nilai kesepahaman diantara kelompok. Kesepakatan dan pemahaman bagaimana pembangunan tersebut dijalankan tanpa mendatangkan kerugian hidup bersama. Bagaimana kelompok tersebut membangun sebuah komitmen yang utuh dalam memperjuangkan nilai-nilai keberlanjutan dari kehidupan mereka. Seringkali aspek ini tertinggal. Kepentingan sosial terabaikan dengan munculnya kepentingan tunggal yang acap memerikan dampak negatif pada kehidupan sosial.
Ekonomi adalah aspek terakhir dalam pembangunan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang sehat mencerminkan kemakmuran yang didapat. Semakin makmur semakin tinggi pula kehidupan ekonomi. Namun, sebagaimana tersebut bahwasanya pertumbuhan ekonomi sesaat bukanlah jawaban yang baik. Namun bagaimana pertumbuhan ekonomi tersebut mampu memberikan kehidupan untuk masa depan.
Ekonomi, lingkungan, dan sosial jika diilustrasikan dalam sebuah gambar akan memberntuk pola keterikatan dalam sebuah segitiga. Lingkungan terkait dengan kedua aspek yang lain. Begitu pula dengan setiap aspek, mempunyai keterkaitan dengan aspek-aspek yang lain. Jika salah satu aspek dalam kondisi yang tidak semestinya, interasksi segitiga yang terjalin tidak berjalan dan dapat dipastikan kehidupan yang berlanjut jauh dari jangkauan. Suku Badui, Banten mempunyai nilai-nilai pembangunan yang berkelanjutan. Terbukti hingga saat ini, mereka dapat hidup tanpa adanya intervensi dari luar. Dengan mandiri mereka mampu mengolah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa menimbulkan konflik.
Dengan memperhatikan secara benar ketiga aspek tersebut, kehidupan dengan pembangunan yang subur berjalan dengan langgeng. Manusia dapat secara hidup baik secara material maupun non material dan yang lebih penting manusia dapat menikmati hidup yang sustain tidak mandeg sampai di sini. Ada gambaran kehidupan di generasi bawah.

tulisan yang menarik…kritis, tajam…tetapi,mau bertanya nih. Benar bahwa pembangunan harus bertumpu pada triple bottom line: ekonomi, lingkungan, sosial. Nah, aspek sosial yang bagaimana nih? Bukankah sesuatu yang “sosial” itu selalu dinamis, berubah dengan cepat. Bagaimana kita “merekayasa” nya sehingga sesuatu yang sosial itu bisa berkontribusi bagi pembangunan. Lalu, bagaimana mengahdapkan sesuatu yang sosial itu di tengah kondisi egoisme yang luar biasa sekarang ini. Egoisme dalam hal ini bukanlah individualisme…
Mohon tanggapannya.
satucita_institute@yahoo.co.id