Bekerja atau Berkarya?

•April 5, 2007 • 1 Komentar

Apa saja sih yang sudah saya lakukan hari ini? Sudah adakah produk yang saya hasilkan hari ini? Sudahkah target saya hari ini terpenuhu seluruhnya? Atau sudahkah saya perproses untuk suatu proses?

Pertanyaan itu selalu saja menghantui saya ketika hari sudah mulai penat dengan rutinitasnya. Tak kala sang waktu memanggil saya untuk menyandarkan beban sesaat setelah jenuh dengan segala aktifitas yang menyita perhatian dan tenaga saya. Apakah kawan-kawan juga mengalami hal sebagaimana yang saya alami? Pertanyaan yang sering kali muncul ketika mata mulai terbuai dengan angan dan pikiran mulai mampir di suatu tempat entah dimana….

Fajar membelalakan mata, membuka lembaran hari yang seakan menawarkan seonggok harapan, cerita, dan pengalaman. Merentas jalan menuju senja, membangun citra dan terus melakukan perubahan menjadi kebutuhan yang wajib hukumnya bagi saya. Menebar karya dan harapan kepada dunia dan seluruh makhluk di alam semesta raya…Melempar kepedulian dalam gelombang kehidupan….mengail dan menangkap setiap asa yang disuguhkan oleh buana…

Namun, kamarin, cerita dan pengalaman yang hebat tidak dapat terengkuh…Hanya menebar asa tanpa memanennya…Hanya menggapai indahnya dunia sesaat…Penggalian yang dangkal…Menjadi budak kaum-kaum yang hanya dapat merampas tenaga serta ide….Terdikte untuk tersulap dalam sebuah gelombang yang tak pernah diinginkan….

Terbangnya ruh…Senyum semu terukir…Kosong…Jiwa…Tersesat dalam kesemuan..Batin berlari…Tanpa curahan ruh dalam setiap karya…

Setiap lekuk karya terukir senyum, nafas, dan jiwa…Rasa tertumpah…Setitik gelombang kepedulian tertumpah…Membasahi setiap jengkal karya… Semangat aktualisasi diri menikam akal dan jiwa…Mengalir deras…Menggapai keabadian yang telah usang dan tersembunyi…Tersambut mentari dengan segenap rasa….

Nah, apa bedanya bekerja dan berkarya? Kembali ke masing-masing…..

Pemecahan Masalah di Ujung Masalah……….

•Februari 20, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sore kemarin, penulis menyimak berita di salah satu stasiun televisi yang menyatakan bahwa penanganan lumpur Porong dengan membuat tanggul setinggi 7 meter. Dalam hati hanya memendam rasa penyesalan mengapa bangsa ini begitu (maap) bodoh untuk hal segawat itu??? Jengkel, malu, dan amarah selalu hadir tak kala tindakan-tindakan bangsa ini seakan-akan mempermalukan bangsa ini sendiri.

Mengapa seakan-akan petinggi hanya melihat akibat lumpur harus dibuang agar pemukiman tidak terendam dan juga lalu lintas di jalan tol Gempol – Porong kembali lancar dan dunia usaha pun akan menemukan geliatnya.

Yang lebih menyedihkan lagi, beberapa hari yang lalu, penulis membaca sebuah media masa yang menuliskan bahwa jalan tol Porong – Gempol ditutup secara permanen dan akan dibangun lagi jalan tol baru dan kabar dalam media masa tersebut menyebutkan total dana yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan tol. Angka yang sangat fantastik ! Bagaimana mungkin? Ya, bagaimana rakyat jelata membayangkan angka sebesar 480 milliar rupiah???

Kondisi yang sangat ironis ketika kita melongok di Pangandaran, Klaten, Yogya, dll (daerah terkena bencana). Hingga saat ini, para korban tersebut belum mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan sebagai korban bencana.

Mengapa fenomena itu selalu ada di negari yang besar ini? Mengapa jalan pemecahan masalah tidak dapat pintar sepintar petinggi-petinggi negeri ini?

Mengapa harus membangun tanggul? Mengapa harus membangun tol baru? Mengapa harus mencari lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru? Haruskah kita selalu mengatasi masalah setelah masalah itu terjadi?

Belajar dari negara maju, negeri yang terkenal gemah ripah loh jinawi ini seharunya malu. Dengan segala sumber daya yang dimiliki, negeri ini seharunya mampu mengantisipasi segala kemungkinan masalah yang timbul. Sudah saatnya, pendekatan penanganan masalah diubah. Pendekatan ujung pipa bukanlah solusi yang tepat bagi negeri ini. Sudah saatnya pendekatan diubah ke pendekatan pangkal pipa dimana segala masalah dilihat dari akat permasalahan, sumber penyebab masalah itu dan kemudian menanganinya sedini mungkin.

Sia-sia saja ketika kita harus meninggikan tanggul di Porong selama sumber luncuran lumpur tidak ditangani (dihentikan). Berapa tinggi tanggul yang kita mampu buat? Apaka selamanya kita akan membangun tanggul terus??? Lantas, baikkan lumpur tersebut ketika dialirkan ke laut? Bagaimana biota yang ada di dalam laut? Terusik kah mereka?

Akankah porong dihapus dari peta(atlas) atau dalam legenda akan diubah dari kota menjadi danau?

Kasus tersebut tak hanya terjadi dalam kasus Porong. Tengok saja persoalan yang menghantui rakyat Indonesia khususnya di kota yakni pengelolaan sampah. Kejadiaan Bojong, Bantargebang, Bandung seolah-olah tidak dijadikan sebuah renungan bersama negeri ini dalam menangani sampah.

Dua kasus cukup memberi gambaran kita semua akan pentingya mengatasi masalah di pangkal pipa yakni dari sumbernya. Ingatlah bahwa kita adalah bangsa yang besar, beradap, dan berakal. Mulailah sesuatu yang dapat memberikan kemakmuran bagi sesama.

Pengelolaan Sungai Terpadu

•Februari 2, 2007 • & Komentar

Apa yang akan terlintas dibenak kita ketika mendengar atau melihat kata Daerah Aliran Sungai (DAS)? Sesuai dengan namanya Daerah Aliran Sungai, mungkin orang akan berfikir bahwa DAS adalah daerah di sekitar sungai dimana air dapat mengalir. Namun tidak semudah itu untuk mendifinisikan apa yang dimaksud dengan DAS. Daerah Aliran Sungai merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri dari sumberdaya tanah, air, dan vegetasi serta sumberdaya manusia yang pada kontek ini sebagai pelaku pemanfaat atau pengguna sumberdaya alam tersebut ( baca: DAS ).

Saat ini kondisi DAS di sebagian besar daerah di Indonesia menurun. Hal itu terindikasi dengan meningkatnya bencana di sekitar DAS, semisal tanah longsor, erosi dan sedimentasi. Melihat kondisi semacam itu, dapat dikatakan bahwa DAS memikul beban yang sangat berat. Mengapa? Meningkatnya kepadatan penduduk di sekitar DAS, meningkat pula pemanfaatan/eksploitasi sumberdaya alam secara intensif dan alhasil dapat dipastikan DAS mengalami penurunan kondisi.

Hulu, tengah dan hilir merupakan kesatuan DAS yang mempunyai keterkaitan baik secara biofisik maupun hidrologis. Pemanfaatan lebih besar oleh sumberdaya manusia pada umumnya terjadi di hulu yang kondisi biofisiknya merupakan daerah tangkapan dan daerah resapan air. Status itulah yang menjadikan hulu rawan akan gangguan eksploitasi secara besar-besaran oleh manusia. Kenyataan semacam itu menandakan bahwa kelestarian DAS ditentukan oleh perilaku sosial masyarakat sekitar dan juga pengelolaan DAS itu sendiri secara kelembagaan. Secara kelembagaan di sini dimaksudkan bahwa DAS sebagai sebuah kesatuaan yang utuh mencakup beberapa wilayah yang secara administratif terpisah, dalam pengelolaannya harus adanya keterpaduaan antar sektor dan wilayah yang tercakup dalam DAS tersebut.

Namun, apa yang terjadi sekarang ini dimana setiap wilayah kabupaten ataupun propinsi mempunyai kewenangan sendiri dalam mengatur wilayahnya sendiri atau yang sering disebut dengan otonomi daerah, setiap daerah berlomba-lomba menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing. Hal itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam UU No. 25 Tahun 1999. Sehingga dapat dipastikan setiap daerah akan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada tanpa adanya perencanaan akan kelestarian sumberdaya alam tersebut. Hal itu sebenarnya juga terjadi pada DAS yang melintas di beberapa wilayah kabupaten di Indonesia atau bahkan lintas propinsi. Permasalahan ego-kedaerahan menjadi sangat rumit dalam koridor DAS lintas daerah.

Dalam hal ini, kelestarian DAS lintas daerah sebagai satu kesatuan yang utuh, yang membentang dari hulu, tengah dan hilir merupakan tantangan yang harus dihadapi di era otonomi daerah ini. Keterpaduan antar sektor dan wilayah dalam pengelolaan DAS perlu mempertimbangkan faktor biosfisik dari hulu hingga hilir. Selain faktor tersebut, pengelolaan juga harus memperhatikan faktor sosial-ekonomi masyarakat dan juga kelembagaan seperti yang telah tersebut di atas. Dengan kata lain, pengelolaan DAS lintas daerah secara terpadu harus dikaji secara komprehensif dengan memperhatikan segala permasalahan yang ada dan bahkan mungkin akan timbul. Pengelolaan secara terpadu ini juga berupaya memanfaatkan dan mengkonservasikan sumberdaya alam secara efektif dan efesian. Sehingga boleh dikatakan pemanfaatan DAS boleh saja dilakukan selama konservasi terhadap DAS itu juga diupayakan untuk pemanfaatan DAS yang lebih lama.

Pengelolaan DAS lintas daerah secara terpadu diawali dengan perumusan kesepakatan dan pembagian peran antar daerah yang tercakup ke dalamnya. Tak hanya itu, persamaan persepsi, langkah dan tujuan dalam implementasi pengelolaan secara terpadu merupakan hal-hal yang esensial dalam hal ini. Mengidentifikasi karakteristik masing-masing bagian DAS adalah penting mengingat pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya pelestarian akan lebih optimal, adil, dan kontinu. Pengidentifikasian kondisi dan karakteristik masing-masing bagian dijadikan pedoman untuk masing-masing wilayah untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam sesuai dengan kewenangan daerah yang telah disepakati secara bersama-sama.

Dengan berbekal permasalahan yang sedang dan akan muncul, daerah-daerah DAS secara bersama-sama merumuskan kebijakan, tujuan, sasaran, rencana kegiatan, implementasi kegiatan, monitoring, dan evaluasi dalam pengelolaan DAS lintas daerah. Ekosistem DAS merupakan ekosistem yang sangat komplek karena terdiri dari beberapa unsur yang terkait dan berinteraksi satu sama lain: unsur biogeofisik, sosial-ekonomi, dan budaya sehingga segala kegiatan tersebut harus mempertimbangkan keterkaitan antar komponen-komponen penyusun ekosistem DAS tersebut.

Keterlibatan sektor swasta yang secara langsung ataupun tidak langsung memanfaatkan sumberdaya alam sungai merupakan bagian penting dalam pengelolaan DAS secara terpadu sehingga diharapkan perencanaan hingga evaluasi pengelolaan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pengelolaan yang melibatkan beberapa sektor dan komponen penyusun DAS bersifat partisipatif. Perlu adanya perasaan saling mempercayai, keterbukaan, tanggung jawab, dan ketergantungan di antara stakeholder pengelola. Dalam hal ini, kedudukan dan tanggung jawab yang dipikul untuk masing-masing stakeholder haruslah jelas. Yang tak kalah penting dalam pengelolaan adalah distrubusi pembiayaan dan keuntungan yang proposional di antara pihak-pihak yang berkepentingan.

Inggris dengan sungai Themes-nya telah membuktikan bahwa pengelolaan DAS secara terpadu dengan mengedapankan tujuan dari pengelolan tersebut. Inggris berupaya memanfaatkan Themes tanpa mengurangi kondisi fisik, sosial, budayanya. Akankah hal tersebut dapat juga terwujud di Indonesia ?

Tumbuhkan Jiwa Entepreneurship

•Februari 2, 2007 • & Komentar

Aduh maap, kali ini aku coba ungkapkan beberapa fakta kenapa bangsa besar ini gak maju-maju. Ya, dalam segala hal. Bukannya sok idealis, tapi mungkin tilisan ini bisa membawa kawan-kawan untuk lebih maju selangkah dalam memikirkan bangsa besar ini, bukan hanya sekedar tuk hidup layak bagi diri kita sendiri.

Aku yakin, kawan-kawan punya pemikiran yang jauh lebih hebat untuk lebih peduli pada umat manusia di bumi ini. Ya, kedengarannya aneh dan ya tadi yang saya katakan di atas saya jadi sok idealis dan gak realistis. Mungkin juga kawan-kawan harus mulai berfikir seperti Gie “ Lebih baik diasingkan dari pada menyerah dalam kemunafikan”. Gimana kawan? Ya, yang setuju silahkan saja terus membaca tulisan ini dan yang tidak setuju silahkan tentukan nasib kawan-kawan sendiri. Tidak ada paksaan untuk terus membaca tulisan ini kok.
Seperti Almarhum Pramoedya yang selalu menuangkan segala ide-ide dan kekecewaan beliau terhadap tirani orde baru ke dalam sebuah bacaan yang sangat apik.

Kita mulai saja kawan. Tahukah kawan semua dengan M. Yunus? Saya yakin seratus persen, kawan-kawan tahu dia. Benar, dia adalah peraih dobel perdamaian 2006. Tahukah juga kenapa dia mendapatkan nobel? Kenapa bukan Susilo Bambang Yudoyono yang memperoleh nobel karena beliau telah berhasil memperdamaikan tanah rencong? Mungkin kita perlu memprotes komite nobel, kenapa bukan SBY yang mendapat.

M.Yunus, seorang brilian, yang tahu dan sadar betul akan kondisi negaranya. Dia mencoba mengimplementasikan segala teori ilmu yang dia peroleh ketika dia menuntut ilmu di luar negeri. Dengan sangat cemerlang, dia membuka bank-bank yang menyediakan kredit mikro bagi rakyat kecil. Alasan tersebut berdasar pada kondisi negara yang rakyatnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan dan adanya konflik saudara yang terus berkecamuk tiada henti.

Kredit tersebut membantu rakyat untuk menumbuhkan perekonomian yang sehat dan kompetitif. Ide yang patut diacungi jempol adalah bahwa hal yang mendasar pembukaan bank-bank mikro oleh Yunus adalah POVERTY. Seperti yang tercantum dalam Millennium Development Goalsnya PBB bahwa pada tahun 2015, semua negara harus menghapus segala bentuk kemiskinan dan kelaparan. (Goal no 1 yakni Eradicate Extreme Poverty and Hunger). Lantas apa keterkaitan poverty dengan perdamaian?

Yunus berpendapat bahwa kedamaian akan tercipta mana kala kemiskinan dan kepalaran terhapus di bumi. Saya membenarkan apa yang ada dalam pemikiran dia. Kenapa terjadi konflik? Ujung-ujungnya adalah masalah perut.

Kalau bisa saya katakan focus yang mesti diselesaikan terlebih dahulu adalah kemiskinan dan kelaparan bukannya memberantas terorisme atau apalah yang sangat tidak esensial. Dengan sentuhannya, M. Yunus mampu mempersatukan bangsa melalui penumbuhan perekonomian dan perbaikan kehidupan rakyat. Semangat Yunus yang pantang menyerah pada keadaan patut menjadi inspirasi kawan-kawan untuk terus mengeluarkan bangsa besar ini dari keterpurukan yang semakin menjadi. Selama ini, menurut analisa dan pengamatan saya (kayak menteri aja ya) bahwa kesenjangan yang sangat lebar terjadi di masyarakat Indonesia. Faktanya gampang banget, coba kawan lewat di Jalan M.H. Thamrin dan setelah itu ke Muara Angke. Coba bandingkan! Apa yang ada di benak kawan-kawan? Sungguh sangat ironis! Itu terjadi dalam satu kota, DKI Jakarta. Nah, bagaimana dengan Manukwari dan DKI Jakarta? Gap dalam memperoleh kehidupan sangat dengan jelas dapat dirasakan perbedaannya.

Benang merah yang coba saya tarik adalah Yunus dengan jiwa interpreneurshipnya mampu mengubah nasib bangsa dan bahkan dia sendiri ke depan. Tanpa berspekulasi dan takut pada resiko, dia mendirikan bank-bank dengan tujuan yang sangat besar bagi negaranya dan bukan pada bagaimana melalui bank-bank tersebut dia memperoleh keuntungan yang besar.

Jiwa-jiwa interpreneurship itulah yang sebenarnya saya ingin soroti. Kenapa orang Indonesia lebih banyak memilih menjadi Pegawai Negeri Sipil (maap ya kawan-kawan yang bekerja sebagai PNS), pegawai BUMN (map juga ya), pegawai perusahaan yang bonafit (map lagi deh) atau yang lain? Kenapa mereka yang berpendidikan tinggi (yang pernah belajar di LN) tidak berani mengambil resiko untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri yang nantinya berguna bagi diri dan juga sesama?

Hidup aman! Itu yang akan menjadi jawaban bangsa kita. Kenyamanan dan keuntungan pribadi dan keluarga adalah tujuannya. Tak ada pemikiran bagaimana menjadikan bangsa ini maju, kaya, dan damai.
Saya juga manusia biasa yang tak saya pungkiri saya kadang kala menjadi realistis, idealis, sosialis, dan bahkan kapitalis. Saya berpendapat bahwa saya tidak boleh memegang satu prinsip saja namun perlu sebuah pemahaman yang cukup panjang untuk menggabunggan semua pahan tersebut dan merancangnya menjadi sebuah ide besar yang hebat bagi bumi ini.

Leading dongeng, mampukah kita berani mengambil segala resiko dan kesempatan untuk memikirkan diri kita, sesame, dan bangsa untuk kehidupan peradaban dunia dan akhirat? Semuanya saya serahkan kepada ide-ide segar dan revolusioner dari kawan-kawan. SELAMAT BERJUANG DAN BERKARYA UNTUK SESUATU YANG BESAR!!!!

Jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat
Di tengah-tengah dunia dan masyarakatnya
Untuk menjadi diri sendiri
Melelahkan dan membosankan untuk diikuti.

Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak
Membutuhkan sesuatu jalan
Menjangkarkan akar tunggang pada bumi
Dan tumbuh jadi pohon.

(Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)

Konservasi Sejak Dini

•Januari 14, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Gundul….Alam raya yang dihuni jutaan manusia adalah anugrah yang patut dihargai dan dinikmati keberadaannya. Namun, tak sepenuhnya manusia semena-mena terhadap apa yang ada di alam ini. Konsekwensi yang diambil manusia adalah mereka wajib hukumnya untuk menjaganya. Seperti diketahui, alam ini adalah jaring kehidupan yang semua komponen penyusunnya saling terkait. Tak ada satu pun komponen di alam ini yang dapat berdiri sendiri.

Keterkaitan itu menjaga keseimbangan alam dan juga memastikan kualitas hidup. Jadi jika salah satu komponen mengalami gangguan, dapat dipastikan akan terjadi ketidakseimbangan alam, semisal air sebagai sumber kehidupan mengalami penipisan persediaan di dalam perut bumi maka komponen lain yang ada di alam ini tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Apa yang terjadi di beberapa wilayah hutan Indonesia merupakan apa yang disebut dengan penurunan fungsi ekologis. Hutan yang seharunya dilindungi dan dijaga kelestariannya, kini hanyalah tempat pemukiman dan ladang terbuka. Dengan mudah, manusia mengubahnya tanpa mengembalikan sesuai dengan fungsinya.

Secara global, hutan menjadi rusak. Tak disadari, tanah sebagai media tanam dan juga sumber nutrisi bagi tanaman juga mengalami penurunan kualitas ketika terjadi perambahan hutan dan penebangan hutan. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya usaha mengembalikan ke semula. Dengan lolosnya nutrisi dalam tanah dan berubahnya struktur tanah, membawa tanah ke dalam sebuah kondisi yang disebut dengan penggurunan. Tak akan ada tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah ini. Sesuai dengan namanya, kondisi tanah mengalami perubahan dan fungsi utama tanah pun hilang.

Upaya konservasi perlu ditawarkan ke segala pihak mengingat tanggung jawab menjaga kelestarian alam adalah milik semua penghuni planet ini. Konservasi, yang berarti menjaga, perlu ditanamkan di setiap pikiran manusia. Penanaman konsep yang kuat mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui konservasi alam perlu dilakukan sejak dini. Artinya, seorang anak diberikan modal yang kuat mengenai menjaga lingkungan sekitar.

Konservasi sejak usia dini memberikan masukan yang sangat berarti bagi keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang. Anak, bukan saja mengetahui mana yang harus dan tidak dilakukan terhadap lingkungan mereka tetapi juga diajak untuk melakukan tindakan nyata terhadap proses perbaikan lingkungan.
Sebagai upaya menangani penurunan fungsi tanah, anak diajak menanam apa saja yang mereka suka. Dengan demikian, struktur dan nutrisi dalam tanah akan dalam kondisi semestinya.
Pendekatan secara formal maupun informal merupakan hal mutlak dalam kegiatan ini. Di sekolah, seorang guru seharusnya membebankan satu tanaman untuk ditanam, dirawat, dan dikontrol. Di keluarga, penanaman dapat dilakukan secara bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain.

Sebuah Lesson Learn dari Sajak Mistik Terbesar dari Jalaludin Al Rumi

•Januari 14, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dikisahkan seorang musafir yang telah berkelana dan lalu pulang kembali dari pengembaraan jauh itu oleh karena rindu kepada sahabatnya dan mengetuk pintu rumah sahabatnya itu.
“ Siapa itu ?” terdengar suara.
“ Aku “, jawabnya.
“ Pergilah ! Terlampau cepat. Pada meja-ku tak ada tempat bagi yang masih mentah “.
Musafir itu dengan sayu terpaksa berkelana lagi dengan kerinduan yang tiada putus-putusnya untuk berjumpa dengan sahabatnya itu. Kemudian pada akhirnya ia kembali pulang dan kembali mengetuk pintu rumah sahabatnya itu.
“ Siapa itu ? “ terdengar suara dari dalam rumah.
“ Engkau sendiri, siapa lagi ?”
“ Sekarang, karena Engkau adalah Aku, maka silahkan masuk. Tidak ada tempat untuk dua Aku di dalam rumah ini.

Untuk Kita Renungkan

•Januari 14, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang petani dengan gigih mempertahankan hidupnya dengan berjalan berkilo-kilo setiap harinya untuk mendapatkan air. Rumah dia yang berada di atas gunung dan sumber air yang berada di kaki gunung mengharusnya berjalan naik turun setiap harinya.

Dengan bersusah payah, dia selalu membawa dua tempayan untuk mengusung air sumber kehidupannya. Dia selalu meletakkan kedua tempayang tersebut di masing-masing tangannya. Pekerjaan yang berat tersebut dilakoninya setiap hari untuk mempertahankan hidup. Medan yang berat tidak menyiutkan semangatnya dalam mengambil air. Ia harus melewati jalan setapak yang sisi satunya merupakan jurang dan satu sisinya merupakan tebing tinggi.

Suatu hari, salah satu tempayan tersebut retak dan tempayan tersebut tidak dapat menjalankan sebagaimana fungsinya membawa air ke rumah petani tersebut. Air yang terbawa hingga rumah dari tempayan retak itu pun berkurang, jumlahnya tidak sama dengan apa yang dibawa oleh tempayan yang satunya.

“Hai! Kenapa kau membiarkan keadaanku seperti ini?”, tanya tempayan retak kepada petani itu. Namun petani itu tak menjawabnya dan terus membawa air dengan tempayan retak.

Keesokan hari, tempayan retak pun kembali menegur petani mengenai keadaannya, “hai! Aku tak bisa membawa air seperti tempayan itu”, sela tempayan retak. Hari itu, tempayan retak terus menggerutu kepada petani tersebut, “sia-sia saja aku membawa air dari bawah tetapi tidak dapat terangkut semua ke atas”. Namun, apa yang terjadi, petani tetap tidak menjawab keluhan dari tempayan retak.

Hari berganti demi hari dan terus saja tempayan retak menggerutu dan menegur petani itu.

“Lebih baik dibuang saja aku,” demikian kata tempayan rusak. Mendengar perkataan tersebut, petani bertanya pada tempayan tersebut, “ hai kau tempayan, kenapa kamu terus mengeluh seperti itu”? Tempayan rusak pun menimpali “ ya, percuma saja dengan keadaanku seperti ini”. Petani itu kemudian menjawab dengan arif, “tempayan rusak, tak pernah kah kau perhatikan dimana aku selalu menaruhmy ketika aku naik ke atas dan membawa air? Kau telah kutempatkan di tangan sebelah kananku dan kau mestinya menyadari apa yang telah kamu lakukan saat aku naik ke atas.”

Tempayan rusak merenung apa yang diucapkan oleh petani. “Kau telah memberikan kehidupan pada bunga-bunga yang tumbuh di sisi tebing sebelah kanan. Sekarang, mereka telah tumbuh subur. Kau telah memberikan air dari lubang-lubangmu pada mereka”. Mendengar petani tersebut, tempayan rusak tersenyum dengan penuh harap akan sebuah pemaknaan hidup.

Cerita itu mengingatkan kita bahwa seburuk-buruk kita, pasti ada sisi positif dari kita yang orang lain tidak miliki dan yang lebih penting mampu memberikan keuntungan kepada yang lain. Seperti halnya tempayan yang rusak namun ia berguna bagi bunga-bunga untuk tetap hidup dan tumbuh. Jangan pernah diantara kita selalu merendahkan diri kita dan bersikap tanpa rasa percaya diri karena kita merasa kita tak berguna. Sebanyak-banyaknya sisi negatif kita, ada sisi positif yang tanpa kita sadari berguna bagi yang lain.

Agama…………

•Januari 2, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Agama

Karya A. Mustofa Bisri

Adalah kereta kencana
Yang disediakan Tuhan
Untuk kendaraan kalian
Berangkat menuju kehadiratNya
Jangan terpukau keindahannya saja
Apalagi sampai
Dangan saudara-saudara sendiri bertikai
Berebut tempat paling depan
Kereta kencana
Cukup luas untuk semua hamba
Yang rindu Tuhan
Berangkatlah !
Sejak lama
Ia menunggu kalian

Rembang 12.12.2005

( dikutip dari Suara Merdeka, 18 Nopember 2006)

Sebuah puisi yang sangat agung dan patut untuk bahan renungan kita bersama.

Pernahkan terlintas dalam pikiran kita, apa pentingnya memperdebatkan sesuatu yang kalau boleh dikata adalah hak prerogratif Tuhan (mengutif ucapan Quraish Sihab dalam Tafsir Al Misbah). Memang, persoalan neraka, surga, haram, halal, dll (selama tidak jelas tercantum dalam Al Quran) adalah hak prerogratif yang kita sebenarnya tidak bisa menghakimi!

Tak ada yang salah di mata Tuhan. Hanya keyakinan dalam diri kita sendiri yang membuat sesuatu itu benar di mata-Nya. Tak bisa kita menyalahkan sesuatu yang kita yakini itu tidak benar (apalagi menyatakan yang tidak sesuai dengan keyakinan dengan kita SALAH!) Sungguh sangat ironis jika pendapat itu terus bersemayam di benak kita.

Apa salahnya juga mereka mempunyai keyakinan yang mereka yakini benar. Lantas, haruskah kita menyalahkan mereka dengan segala keyakinan mereka?

Sebagai civil society, kita tak seharusnya menempuh segala cara untuk menomorsatukan keyakinan kita. Apalagi jalur kekerasan yang sering kali menjadi jalan terakhir untuk show up………..

Kereta kencana itu setiap saat dan bahkan sampai kapan pun akan tetap luas dan lapang untuk seluruh penumpangnya. Tidak ada alasan untuk saling berebut mencari yang paling depan ataupun yang paling bagus. Semua duduk dengan rapi dan teratur hingga pemberhentian di teminal yang paling akhir. Bisakah seluruh penumpang menaati seluruh aturan yang ada dalam kereta kencana tersebut?

Jika semua penumpang mau memahami semua kebutuhan setiap penumpang dan menghargainya sebagai sebuah perbedaan tanpa harus memperdebatkan, kereta kencana akan membawa seluruh penumpangnya dengan selamat menuju terminal-Nya.

Pelangi Itu Indah…………

•Januari 2, 2007 • & Komentar

Sore itu hujan baru saja menampakkan keperkasaannya. Tak lama setelah itu, sang surya memancarkan kekuatannya menghangatkan bumi dengan lembut menembus sisa awan pekat. Kulihat sekumpulan cahaya tersebut melewati butiran-butiran air dan membiaskannya menjadi warna-warni yang menakjubkan. Takjub kalbu ini memandang biasan-biasan pancaran itu, sungguh Maha Hebat semua kuasa-Mu. Engkau telah melukis dengan hebat meski warna tersebut tidak sama. Benak ini terus berucap syukur sungguh Maha Agung Engkau. Ya, Engkau mengenalkan kepada hamba-Mu akan keberadaan pelangi yang tak seorang pun hamba-Mu menyangkal keindahannya.

Pelangi dengan warna-warna yang berbeda memberikan inspirasi bagi semua makhluk di bumi akan indahnya perbedaan. Coba kita bayangkan bagaimana pelangi ketika dia mempunyai warna yang sama? Putih saja? Merah saja? Hitam saja?

Filosofi pelangi seharusnya terpatri dalam diri setiap makhluk hidup. Perlu sebuah pemahaman akan indahnya perbedaan. Jangan pernah ada pertikaian ketika perbedaan itu hadir di masyarakat. Jika kita bisa menyebutkan pelangi itu indah karena memiliki beraneka macam warna, begitu halnya dengan perbedaat di anatar kita. Kita harus memandangnya sebagai sebuah anugrah yang patut disyukuri dan diterima tanpa alasan apapun.

Tidak ada lagi pertikaian dan permusuhan hanya karena kita beda pendapat. Apa salahnya kita memiliki perbedaan pendapat yang dapat memperkaya wacana kita dan pada akhirnya akan menumbuhkan kehidupan yang madani (civil society). Makhluk yang mampu menerima perbedaan menuntun kita menuju kehidupan yang beradab dan pencapaian tujuan kedamaian hidup.

Sepanjang perbedaan-perbedaan ini dalam koridor keselamatan dan kemanusian makhluk adalah sah-sah saja untuk selalu membiarkan pebedaan itu tumbuh dan berkembang diantara kita. Sikap ini membawa kita pada sikap demokratis kita. Bukankah salah satu ciri dari proses demokrasi, menghargai setiap perbedaan yang muncul? Dan bukan membungkamnya? Atau bahkan menggunakan cara kekerasan ketika membungkam perbedaan itu?

Cara-cara anarkis seringkali menjadi pilihan bahkan yang lebih bodoh terjadi ketika perbedaan itu muncul meski dalam satu kelompok yang pada awalnya sepaham.

Pada akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan kepada kita semua jika perbedaan itu muncul, ingatlah selalu pelangi di sore hari saat sang surya dengan malu-malu menebarkan pesonanya. Pelangi itu indah karena warna-warni, perbedaan itu juga indah bukan?

Refleksi Pembelajaran Sekolah Tomoe (Totto-Chan, Karya Tetsuko Kuroyanagi) Pada Pembelajaran Sekolah Indonesia………..

•Desember 8, 2006 • & Komentar

Pendek kata, semua murid Tomoe melakukan apa yang mereka sukai dengan cara yang mereka sukai. (hal 194)

Sistem pembelajaran yang sangat tepat ! itulah pertama kali yang terlintas dalam benak saya ketika membaca buku Totto Chan. Memang, sudah saatnya pembelajaran di Indonesia diubah.

Selama ini, pembelajaran kita hanya mengedepankan nilai. Kalau boleh dikata, pembelajaran Indonesia lebih mengagung-agungkan nilai. Bagi seorang murid, nilai adalah sangat penting. Lebih parah, guru dan orang tua murid sendiri lah yang memandang keberhasilan seorang murid dengan melihat seberapa besar nilai yang diperoleh oleh seorang murid.

Metode menghafal sering kali menjadi pilihan utama untuk mendapat nilai bagus(tinggi). Metode itu hanya bertahan (maap) ketika siswa menghadapi ulangan umum atau ujian. Setelah selesai menempuh ulangan harian, siswa akan lupa apa yang sedang dipelajarinya. Siswa tidak mampu memetik setiap lesson learn setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Tuntutan seorang orang tua yang akan membanggakan diri ketika anak mereka mendapat nilai tinggi atau seorang guru yang dapat membanggakan diri di Kepala Dinas atau sekolah lain ketika sekolah mereka meraih nilai tertinggi dalam ujian tidak mampu meningkatkan kepekaan emosi para siswa. Siswa hanya dituntut secara akademis harus mampu bersaing tanpa mematrikan sebuah konsep ilmu yang akan dia bawa hingga akhir hayat. Siswa tumbuh dan kembang bukan mewakili watak mereka masing-masing namun tumbuh dan kembang sesuai dengan keinginan orang tua atau guru.

Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang denga mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa.

…………segala sesuatu yang alamiah dan ingin agar karakter anak-anak berkembang sealamiah mungkin. (hal 251)

Pembelajaran seharusnya mengedepankan pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri secara akademis dan emosional secara seimbang. Tak hanya kemampuan otak saja yang harus diutamakan namun kemampuan ketrampilan hidup yang akan menuntun anak dalam keberhasilan hidup.

Melalui life skill, anak mampu menumbuhkembangkan kepekaan mereka terhadap kondisi lingkungan sekitar mereka. Bukan saatnya, kita menciptakan manusia yang hanya mampu beradu argumentasi tanpa mampu menghadapi tantangan hidup dan mengambil segala resiko dan kesempatan dengan penuh tanggung jawab.

Entah bagaimana, kehidupan sehari-hari di Tomoe telah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh mendorong orang yang lebih kecil atau lemah daripada mereka, bahwa bersikap tidak sopan berarti mempermalukan diri sendiri, bahwa setiap kali melewati sampah mereka harus mengambil dan membuangnya ke tempat sampah, dan bahwa mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain kesal atau terganggu. (hal 95)

Selama ini, siswa kita tidak diberi kesempatan berbicara yang cukup. Alhasil, banyak siswa kita tidak berani mengungkapkan pendapat mereka hingga mereka dewasa. Kebebasan mereka seolah-olah direnggut oleh seorang guru yang menginginkan siswa mereka duduk, diam, mencatat, dan mendengarkan.

Bukankah yang terpenting dalam kehidupannya adalah life skill atau ketrampilan hidup seseorang? Tak sedikit yang berhasil dalam kehidupan ini adalah mereka yang mempunyai semangat, ketrampilan hidup dan life skill yang tinggi.

Anak mempunyai dunia sendiri yang kita (orang dewasa) tidak dapat mengintervensi sedikit pun kepentingan mereka. Biarkanlah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan cara mereka. Cara itulah yang akan menuntun mereka untuk selalu bersikap ilmiah. Dengan sendirinya, anak akan menemukan konsep-konsep ilmu yang akan terpatri di benak mereka selamanya hingga mereka tumbuh dewasa.

Motivasi sangat perlu untuk menumbuhkan rasa konfiden dalam diri anak. Tak jarang kita dapat menemukan sikap rendah diri anak. Anak merasa apa yang telah dilakukannya salah. Guru dan orang tua lah yang benar. Sikap semacam itu membuat anak tidak dapat mengembangkan ide dan kreatifitas diri yang pada akhirnya mengurung pola pikir anak.

Sekarang, bagaimana kita menyikapi hal itu? Semuanya terserah pada kita calon orang tua yang kelak memiliki buah hati yang juga mempunyai kehidupan sendiri.