Aduh maap, kali ini aku coba ungkapkan beberapa fakta kenapa bangsa besar ini gak maju-maju. Ya, dalam segala hal. Bukannya sok idealis, tapi mungkin tilisan ini bisa membawa kawan-kawan untuk lebih maju selangkah dalam memikirkan bangsa besar ini, bukan hanya sekedar tuk hidup layak bagi diri kita sendiri.
Aku yakin, kawan-kawan punya pemikiran yang jauh lebih hebat untuk lebih peduli pada umat manusia di bumi ini. Ya, kedengarannya aneh dan ya tadi yang saya katakan di atas saya jadi sok idealis dan gak realistis. Mungkin juga kawan-kawan harus mulai berfikir seperti Gie “ Lebih baik diasingkan dari pada menyerah dalam kemunafikan”. Gimana kawan? Ya, yang setuju silahkan saja terus membaca tulisan ini dan yang tidak setuju silahkan tentukan nasib kawan-kawan sendiri. Tidak ada paksaan untuk terus membaca tulisan ini kok.
Seperti Almarhum Pramoedya yang selalu menuangkan segala ide-ide dan kekecewaan beliau terhadap tirani orde baru ke dalam sebuah bacaan yang sangat apik.
Kita mulai saja kawan. Tahukah kawan semua dengan M. Yunus? Saya yakin seratus persen, kawan-kawan tahu dia. Benar, dia adalah peraih dobel perdamaian 2006. Tahukah juga kenapa dia mendapatkan nobel? Kenapa bukan Susilo Bambang Yudoyono yang memperoleh nobel karena beliau telah berhasil memperdamaikan tanah rencong? Mungkin kita perlu memprotes komite nobel, kenapa bukan SBY yang mendapat.
M.Yunus, seorang brilian, yang tahu dan sadar betul akan kondisi negaranya. Dia mencoba mengimplementasikan segala teori ilmu yang dia peroleh ketika dia menuntut ilmu di luar negeri. Dengan sangat cemerlang, dia membuka bank-bank yang menyediakan kredit mikro bagi rakyat kecil. Alasan tersebut berdasar pada kondisi negara yang rakyatnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan dan adanya konflik saudara yang terus berkecamuk tiada henti.
Kredit tersebut membantu rakyat untuk menumbuhkan perekonomian yang sehat dan kompetitif. Ide yang patut diacungi jempol adalah bahwa hal yang mendasar pembukaan bank-bank mikro oleh Yunus adalah POVERTY. Seperti yang tercantum dalam Millennium Development Goalsnya PBB bahwa pada tahun 2015, semua negara harus menghapus segala bentuk kemiskinan dan kelaparan. (Goal no 1 yakni Eradicate Extreme Poverty and Hunger). Lantas apa keterkaitan poverty dengan perdamaian?
Yunus berpendapat bahwa kedamaian akan tercipta mana kala kemiskinan dan kepalaran terhapus di bumi. Saya membenarkan apa yang ada dalam pemikiran dia. Kenapa terjadi konflik? Ujung-ujungnya adalah masalah perut.
Kalau bisa saya katakan focus yang mesti diselesaikan terlebih dahulu adalah kemiskinan dan kelaparan bukannya memberantas terorisme atau apalah yang sangat tidak esensial. Dengan sentuhannya, M. Yunus mampu mempersatukan bangsa melalui penumbuhan perekonomian dan perbaikan kehidupan rakyat. Semangat Yunus yang pantang menyerah pada keadaan patut menjadi inspirasi kawan-kawan untuk terus mengeluarkan bangsa besar ini dari keterpurukan yang semakin menjadi. Selama ini, menurut analisa dan pengamatan saya (kayak menteri aja ya) bahwa kesenjangan yang sangat lebar terjadi di masyarakat Indonesia. Faktanya gampang banget, coba kawan lewat di Jalan M.H. Thamrin dan setelah itu ke Muara Angke. Coba bandingkan! Apa yang ada di benak kawan-kawan? Sungguh sangat ironis! Itu terjadi dalam satu kota, DKI Jakarta. Nah, bagaimana dengan Manukwari dan DKI Jakarta? Gap dalam memperoleh kehidupan sangat dengan jelas dapat dirasakan perbedaannya.
Benang merah yang coba saya tarik adalah Yunus dengan jiwa interpreneurshipnya mampu mengubah nasib bangsa dan bahkan dia sendiri ke depan. Tanpa berspekulasi dan takut pada resiko, dia mendirikan bank-bank dengan tujuan yang sangat besar bagi negaranya dan bukan pada bagaimana melalui bank-bank tersebut dia memperoleh keuntungan yang besar.
Jiwa-jiwa interpreneurship itulah yang sebenarnya saya ingin soroti. Kenapa orang Indonesia lebih banyak memilih menjadi Pegawai Negeri Sipil (maap ya kawan-kawan yang bekerja sebagai PNS), pegawai BUMN (map juga ya), pegawai perusahaan yang bonafit (map lagi deh) atau yang lain? Kenapa mereka yang berpendidikan tinggi (yang pernah belajar di LN) tidak berani mengambil resiko untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri yang nantinya berguna bagi diri dan juga sesama?
Hidup aman! Itu yang akan menjadi jawaban bangsa kita. Kenyamanan dan keuntungan pribadi dan keluarga adalah tujuannya. Tak ada pemikiran bagaimana menjadikan bangsa ini maju, kaya, dan damai.
Saya juga manusia biasa yang tak saya pungkiri saya kadang kala menjadi realistis, idealis, sosialis, dan bahkan kapitalis. Saya berpendapat bahwa saya tidak boleh memegang satu prinsip saja namun perlu sebuah pemahaman yang cukup panjang untuk menggabunggan semua pahan tersebut dan merancangnya menjadi sebuah ide besar yang hebat bagi bumi ini.
Leading dongeng, mampukah kita berani mengambil segala resiko dan kesempatan untuk memikirkan diri kita, sesame, dan bangsa untuk kehidupan peradaban dunia dan akhirat? Semuanya saya serahkan kepada ide-ide segar dan revolusioner dari kawan-kawan. SELAMAT BERJUANG DAN BERKARYA UNTUK SESUATU YANG BESAR!!!!
Jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat
Di tengah-tengah dunia dan masyarakatnya
Untuk menjadi diri sendiri
Melelahkan dan membosankan untuk diikuti.
Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak
Membutuhkan sesuatu jalan
Menjangkarkan akar tunggang pada bumi
Dan tumbuh jadi pohon.
(Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)